- istimewa
Menjelajah Negeri Maluku, Mapala UI Bangun Ekonomi Desa dan Kembangkan Wisata Dirgantara
Pilot Paralayang Ekspedisi Fly The Spice Islands, Gendon Subandono mengatakan Pada Sabtu, 8 Agustus 2026 yang lalu, tim berhasil merealisasikan penerbangan pertama dari puncak Gamalama.
“Lepas dari bebatuan besar di lereng kawah utara rasanya lega, parasut membumbung menjauh dari kawah Gamalama dan disambut pemandangan indah Ternate,” ujarnya.
Lebih lanjut, Gendon mengatakan Fly The Spice Islands bertujuan untuk memberikan rekomendasi kebijakan di bidang pariwisata dirgantara yang tertuju pada pihak berwenang sekaligus film dokumenter sebagai upaya pengembangan pariwisata minat khusus di kawasan tersebut.
"Melalui ekspedisi ini, ketiga gunung di daerah Maluku Utara dapat semakin tersorot dan membuka jalan bagi lebih banyak penggiat paralayang untuk terbang dari titik-titik tersebut di kemudian hari," katanya.
Mengubah Komoditas Kelapa di Desa Wailulu Menjadi Tepung Kelapa
- istimewa
Selain menjelajah angkasa Maluku Utara, Mapala UI turut menerapkan salah satu Tri Dharma Perguruan Tinggi, yakni pengabdian masyarakat, melalui program UIMN 2026 di Desa Wailulu, Kecamatan Seram Utara Barat, Kabupaten Maluku Tengah.
Nivand, selaku Project Officer UIMN 2026 mengatakan program ini resmi dibuka pada Selasa, 11 Agustus 2026 dan akan berlangsung selama kurang lebih satu bulan.
Pelaksanaannya turut didukung oleh Pemerintah Desa Wailulu dan Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Darussalam (Darmapala Ambon).
“Sebagai mahasiswa selain punya kewajiban di dalam kelas kita juga punya kewajiban di luar kelas, salah satunya untuk berdampak pada masyarakat Indonesia. Maka dari itu, UIMN hadir sebagai wadah pengabdian masyarakat dengan tujuan menambah nilai komoditas lokal untuk meningkatkan pendapatan ekonomi lokal,” terangnya.
Menurut Nivand, Desa Wailulu sebagai desa binaan menyimpan potensi kelapa yang besar, dengan hasil panen raya yang bisa mencapai sekitar 30 ton. Di balik kelimpahan tersebut, potensi sebesar itu belum diimbangi dengan harga jual yang sepadan.
"Selama ini, kelapa hasil panen warga hanya diolah menjadi kopra (daging kelapa yang dikeringkan), dengan harga jual yang cukup rendah dan cenderung fluktuatif. Harga jual kopra sangat bergantung pada tengkulak yang menjadi perantara utama penjualan kopra," katanya.