- ANTARA
BMKG Catat Terjadinya 1.598 Gempa Susulan di NTT, Terbesar Magnitudo 6,2 dan Terkecil Magnitudo 1,3
Jakarta, tvOnenews.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat 1.598 gempa susulan hingga Senin (17/8/2026) pukul 07.00 WIB di NTT.
Adapun pada Sabtu (15/8/2026) gempa utama berkekuatan Magnitudo 7,7 mengguncang wilayah NTT dan sempat memicu peringatan dini tsunami.
Setelah hasil pemantauan menunjukkan kondisi telah memenuhi kriteria untuk pencabutan peringatan, BMKG kemudian mengakhiri peringatan dini tsunami.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan tercatat gempa susulan terbesar yang terjadi berkekuatan Magnitudo 6,2 dan terkecil Magnitudo 1,3. Sementara itu, 54 gempa dirasakan masyarakat.
Dia mengatakan BMKG terus memantau aktivitas gempa susulan dan proses peluruhannya setelah gempa utama.
BMKG memperkirakan aktivitas gempa susulan berangsur meluruh dalam dua hingga tiga pekan ke depan.
"Kita terus masih memantau terkait dengan peluruhannya. Kemungkinan dalam 2-3 minggu ke depan dia akan meluruh," ujarnya, Senin (17/8/2026).
Pemantauan proses peluruhan gempa susulan, sambung dia, diperlukan sebagai salah satu pertimbangan dalam menentukan langkah pemulihan bangunan yang terdampak.
Teuku Faisal mengungkapkan perbaikan atau penguatan bangunan bisa dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi serta tingkat kerusakan masing-masing bangunan usai aktivitas gempa susulan semakin mereda.
"Sehingga kita mulai dapat melakukan perbaikan bangunan atau pembangunan kembali jika dibutuhkan," terangnya.
Di samping itu, kata dia, BMKG telah mengerahkan tim ke wilayah terdampak gempa di NTT.
Terdapat tiga unit pelaksana teknis (UPT) BMKG di Pulau Flores serta dua pos pemantauan yang mendukung pemantauan aktivitas kegempaan di wilayah tersebut.
Dalam mendukung penanganan pascagempa, para personel BMKG di lapangan juga berkoordinasi dengan pemerintah daerah, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) serta tim pencarian dan pertolongan. (ant/nsi)