- tvOnenews - Abdul Gani Siregar
Zulhas Ungkap Distribusi Bantuan Makanan Tidak Gampang di Bencana Darurat
Jakarta, tvOnenews.com - Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) mengakui, distribusi bantuan pangan kepada korban bencana di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan tidak mudah.
Kondisi geografis dan akses menuju sejumlah wilayah terdampak menjadi tantangan pemerintah dalam memastikan bantuan dapat segera menjangkau seluruh masyarakat.
Zulhas memastikan kebutuhan pangan masyarakat terdampak bencana tetap aman. Menurutnya, pemerintah melalui Perum Bulog dan Badan Pangan Nasional (Bapanas) terus mempercepat distribusi bantuan, meski membutuhkan waktu untuk menjangkau wilayah-wilayah tertentu.
“Dijamin, kita jamin soal pangan aman ya di NTT. Bulog, Bapanas bergerak cepat ya. Soal waktu kapal saja. Satu-dua hari semua akan rata, insyaallah akan dapat semua. Kecuali memang yang tidak memungkinkan daerah itu dikunjungi,” kata Zulhas usai acara Tasyakuran 28 Tahun PAN di Jakarta Selatan, Minggu (23/8/2026).
Ia mengatakan wilayah yang dapat dijangkau ditargetkan menerima distribusi pangan dalam satu hingga dua hari. Namun, kondisi berbeda terjadi pada wilayah yang secara geografis sulit diakses, termasuk pulau-pulau tertentu.
“Ya, kalau misalnya satu pulau yang enggak mungkin kita bisa datang, nah itu iya. Tapi semua yang bisa dijangkau satu-dua hari ini akan selesai. Karena pangan kita aman, enggak usah khawatir,” ujarnya.
Zulhas menegaskan stok pangan nasional masih mencukupi sehingga masyarakat tidak perlu mengkhawatirkan ketersediaan kebutuhan pokok selama masa tanggap darurat bencana.
“Beras banyak, telur banyak, ayam banyak, ikan banyak, gula banyak, banyak. Makanan kita cukup, lebih dari cukup,” tegasnya.
Pernyataan Zulhas itu disampaikan setelah muncul keluhan mengenai bantuan pangan yang diterima sebagian warga terdampak di Flores. Salah satunya menyebut bantuan yang diterima hanya berupa mi instan dan beras dalam jumlah terbatas.
Zulhas mengatakan kondisi tersebut tidak terlepas dari karakteristik penanganan bencana pada tahap awal. Menurutnya, pemerintah harus memprioritaskan pemenuhan kebutuhan darurat sebelum beralih ke tahap pemulihan dan pembangunan kembali.
“Memang pertama kalau bencana itu darurat dulu. Jangankan yang lain, distribusi makanan saja enggak gampang. Karena untuk mencapai satu lokasi itu tidak mudah. Kita jangan bayangkan kayak di sini kan gampang,” katanya.
Ia membandingkan kondisi tersebut dengan pengalaman penanganan bencana sebelumnya di Aceh dan Sumatera Utara. Menurutnya, distribusi bantuan ke wilayah pegunungan menjadi tantangan tersendiri karena akses menuju lokasi terdampak tidak selalu mudah.
“Seperti kemarin waktu kami di mana itu di Aceh, di Sumut itu, itu tidak mudah sekali. Apalagi yang di gunung. Enggak gampang. Maka darurat dulu,” ujarnya.
Zulhas menegaskan penanganan bencana tidak berhenti pada distribusi bantuan makanan. Setelah kebutuhan darurat terpenuhi, pemerintah akan memasuki tahapan berikutnya, termasuk penyediaan hunian tetap hingga pembangunan kembali rumah warga.
“Setelah ini nanti baru tambah yang lain hunian tetap. Setelah hunian tetap baru nanti rumah, pendek kata bencana pemerintah akan selesaikan. Soal waktu saja yang tidak mudah. Begitu ya,” pungkasnya. (agr/aag)