- ANTARA
Kebakaran Desa Adat Sade, Hangusnya Warisan Arsitektur Vernakular dan Ribuan Naskah Lontar Kuno
Lombok Tengah, tvOnenews.com-Setelah api menghanguskan kebakaran ratusan rumah adat wisata Sade Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), kini ratusan petugas gabungan TNI-Polri, pemerintah daerah, dan warga mulai membersihkan material sisa-sisa kebakaran.
"Hari ini petugas gabungan sedang membersihkan material sisa kebakaran di lokasi kejadian," kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lombok Tengah Ridwan Maruf di Lombok Tengah, Minggu.
Ia mengatakan peristiwa kebakaran itu terjadi pada Sabtu malam (22/8) dan sejumlah mobil pemadam kebakaran dan penyelamatan (Damkartan) gabungan diturunkan melakukan pemadaman kebakaran ratusan rumah di kampung adat tersebut.
"Hingga pagi hari ini petugas masih memadamkan kepulan asap sisa kebakaran. Mobil tangki air juga diturunkan untuk membantu proses pendinginan dan pembersihan material di lokasi," katanya.
"Untuk penyebab kebakaran belum bisa dipastikan, apakah itu akibat arus pendek listrik atau faktor lain," katanya.
Warisan arsitektur vernakular
Yang ikut terbakar adalah pengetahuan lokal soal rumah adat Sade dibangun berdasarkan nilai estetika dan kearifan lokal. Orang sasak mengenal beberapa jenis bangunan adat yang menjadi tempat tinggal dan juga tempat ritual adat dan ritual keagamaan.
Rumah adat suku Sasak terbuat dari jerami dan berdinding anyaman bambu (bedek). Lantai dari tanah liat yang dicampur kotoran kerbau dan abu jerami.
Campuran tanah liat dan kotoran kerbau membuat lantai tanah mengeras, sekeras semen.
Cara membuat lantai seperti itu sudah diwarisi sejak nenek moyang mereka.Bahan bangunan seperti kayu dan bambu didapatkan dari lingkungan sekitar. Untuk menyambung bagian-bagian kayu, mereka menggunakan paku dari bambu.
Rumah suku Sasak hanya memiliki satu pintu berukuran sempit dan rendah, tidak memiliki jendela. Menurut Ketua LHSS Muhammad Ali Akbar di Mataram, Minggu, keberadaan arsitektur vernakular Suku Sasak selama ini menjadi bagian dari kehidupan dan ritual harian masyarakat.
Selain aspek budaya, kebakaran juga berdampak terhadap aktivitas ekonomi masyarakat adat yang menggantungkan penghasilan dari ekonomi kreatif berbasis kain tenun.
"Kami kehilangan arsitektur vernakular Suku Sasak yang otentik dan ruang sosial tempat ritual harian warga. Selain itu, ekonomi kreatif warga lewat kain tenun juga lumpuh total," ucap Ali.
LHSS menyarankan proses pemulihan pascakebakaran tidak hanya berorientasi pada pembangunan kembali bangunan fisik, tetapi juga diarahkan pada masyarakat dan pengetahuan budaya yang menjadi fondasi kehidupan Kampung Adat Sade.
Komunitas yang aktif meneliti, mengkaji, serta melestarikan sejarah, situs, dan warisan budaya Sasak di Pulau Lombok tersebut mendorong pemberdayaan masyarakat adat menjadi bagian utama dalam proses pemulihan Kampung Adat Sade.
"Fisik bangunan bisa dibangun kembali, artefak bisa kita data ulang, tetapi memori kolektif, tradisi lisan, dan keahlian menenun melekat pada manusianya. Selama masyarakat adatnya berdaya, kebudayaan Kampung Adat Sade tidak akan pernah mati," kata Ali.
Koleksi naskah kuno ikut terbakar
Selain rumah adat, memori kolektif yang ikut hilang adalah Ribuan naskah kuno yang memberikan gambaran tentang adat istiadat, budaya para leluhur di Lombok. Naskah-naskah tersebut menjadi jejak sejarah Lombok yang masih abadi hingga saat ini.
Salah satu naskah yang menarik adalah Lontar Rengganis. Itu berisi tentang budi pekerti masyarakat Sasak yang kental dengan kesopanan.
Budayawan Sasak, Lalu Putria, mengatakan Lontar Rengganis merupakan sebuah pesan leluhur terhadap generasi muda Lombok. Pada lontar tersebut membahas adat istiadat cara berbicara, cara duduk hingga cara berpakaian yang semestinya.
“Ada ribuan lontar, di sini (Lombok) ditemukan ribuan. Ada Rengganis, Puspekarame, Labankare dan lainnya,” kata Lalu Putria pada koranntb.com.
Lontar Rengganis memiliki pesan tentang tiga hal. Yaitu wirame atau cara bicara, wiraga atau performa mulai dari cara duduk, jalan, makan dan lainnya dan wirase atau cinta kasih.
Pada Minggu (23/8/2026), beberapa warga desa adat Sade tampak mengais sisa naskah lontar kuno yang sudah hangus terbakar. Naskah yang sudah tidak utuh tersebut ditemukan warga di balik puing-puing rumah adat yang sebagian besar sudah rata dengan tanah. Salah satu naskah lontar yang ditemukan adalah naskah lontar Rengganis dan sejumlah naskah lontar lain.(Ant, berbagai sumber)