- tvOnenews/A.R Safira
Cegah Karhutla di Sumatera-Kalimantan, Polri Bangun 1.296 Embung dan 843 Sekat Kanal
Jakarta, tvOnenews.com - Polri membangun 1.296 embung dan 843 sekat kanal di sejumlah wilayah rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sebagai bagian dari upaya pencegahan dan mitigasi.
Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Pol Trunoyudo Wisnu Andiko, mengatakan, pembangunan infrastruktur pembasahan tersebut dilakukan terutama di wilayah Sumatera dan Kalimantan yang memiliki banyak lahan gambut.
“Salah satunya infrastruktur pembasahan. Jadi beberapa secara geografis, khususnya di wilayah Kalimantan dan Sumatera, itu kan lahan gambut,” ucap Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri dalam konferensi pers di Mabes Polri, Minggu (23/8/2026).
“Infrastruktur pembasahan. Jadi hampir sudah ada 1.296 embung dan 843 sekat kanal serta ratusan sumur bor di wilayah vital,” ujarnya.
Pembangunan infrastruktur tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan wilayah yang menjadi titik rawan karhutla.
Sementara itu, Kepala Biro Pembinaan dan Operasional Stamaops Polri Brigjen Pol Auliansyah Lubis menjelaskan, embung dan sekat kanal menjadi bagian dari strategi pencegahan terpadu yang dilakukan Polri bersama sejumlah pihak.
Polri juga membangun sumur bor untuk mengantisipasi kondisi embung yang mengering.
“Kemudian membuat juga sekat-sekat kanal supaya nanti api itu tidak berpindah kepada tempat yang lain. Sekat kanal itu mungkin ada sampai dengan ratusan. Dan juga ribuan sumur bor,” kata dia.
Menurut Auliansyah, sumur bor diperlukan sebagai sumber air tambahan apabila embung yang telah dibangun mengalami kekeringan.
“Jadi untuk mengantisipasi kalau seandainya embung yang kita buat itu kering, nah itu juga sudah diantisipasi dengan membuat sumur bor,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pembangunan sumur bor di daerah gambut relatif tidak membutuhkan kedalaman yang terlalu besar.
“Kalau misalnya di daerah gambut, sudah terbukti bahwa tidak begitu dalam, mungkin sekitar 20 sampai 40 meter, itu sudah bisa mendapatkan air dan itu tidak terlalu lama. Mungkin sekitar dua sampai tiga jam, itu sudah bisa berhasil kita membuat sumur bor,” kata Auliansyah.
Selain membangun infrastruktur pembasahan, Polri melakukan patroli darat dan udara, pemetaan wilayah rawan, serta memperkuat sistem peringatan dini untuk mencegah meluasnya karhutla.
Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari mitigasi sejak tahap prabencana, terutama menghadapi puncak musim kemarau dan ancaman El Nino.
Polri sebelumnya menyebut strategi pencegahan dilakukan melalui kolaborasi dengan TNI, Manggala Agni, pemerintah daerah, serta masyarakat.
Dengan berbagai langkah tersebut, Polri berharap potensi kebakaran dapat ditekan sejak awal dan penanganan api di wilayah rawan dapat dilakukan dengan lebih cepat. (aag)