- PEMKRIS.
PEMKRIS Berganti Nahkoda, Bishop Joshua Tewuh Ungkap Fokus yang Akan Dikerjakan
Jakarta, tvOnenews.com - Perkumpulan Pemimpin dan Tokoh Kristen Bersatu (PEMKRIS) memasuki babak baru setelah Bishop Dr. Joshua Tewuh dipercaya sebagai Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP).
Pengukuhan kepengurusan nasional sekaligus deklarasi PEMKRIS berlangsung di Jakarta. Kepemimpinan tersebut menempatkan Joshua Tewuh di tengah upaya organisasi untuk mempertemukan pemimpin dan tokoh Kristen dari berbagai denominasi serta latar belakang.
Bagi Joshua, tantangan yang dihadapi bukan hanya membangun struktur organisasi, tetapi juga mengonsolidasikan berbagai potensi yang selama ini bergerak di bidang pelayanan, pendidikan, sosial, advokasi, dan kemanusiaan.
Pengalaman Joshua di sejumlah bidang menjadi bagian dari rekam jejak yang mengantarkannya pada posisi tersebut. Ia tercatat sebagai Ketua Sinode Gereja Imanuel dan turut mendirikan Sekolah Tinggi Alkitab Kalam Kristus Jakarta (STALK Jakarta).
Perhatiannya terhadap pendidikan teologi juga diwujudkan melalui inisiasi Sarasehan Nasional Perguruan Tinggi Teologi Agama Kristen Se-Indonesia serta pendirian Badan Musyawarah Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen Indonesia (BMPTKKI).
Menurut Joshua, kepemimpinan tidak cukup hanya dibangun melalui pelayanan gerejawi. Dialog, pendidikan, konsolidasi, dan kemampuan merespons persoalan masyarakat juga menjadi bagian penting.
“Kehadiran PEMKRIS diharapkan dapat menjadi wadah bersama yang mempertemukan para pemimpin dan tokoh Kristen dari berbagai latar belakang. Persatuan dan kolaborasi menjadi kekuatan penting agar kita dapat memberikan kontribusi yang nyata, baik bagi umat maupun bagi bangsa Indonesia,” ujar Bishop Joshua Tewuh dalam keterangannya, dikutip Minggu (23/8/2026).
Tak Hanya Fokus pada Pelayanan Gereja
Aktivitas Joshua juga bersinggungan dengan sejumlah persoalan sosial dan kemanusiaan. Salah satunya melalui program PARADOX PAPUA yang berfokus pada kepedulian terhadap masyarakat Papua dan isu keadilan sosial.
Ia sebelumnya juga mendirikan gerakan Jaga Kawal Kekristenan Indonesia atau Christian Watch. Gerakan tersebut berkaitan dengan perhatian terhadap persoalan hak-hak konstitusional masyarakat Kristen.
Pengalaman di bidang advokasi tersebut menjadi salah satu konteks bagi arah yang ingin dibangun PEMKRIS. Organisasi ini tidak hanya diarahkan sebagai tempat berhimpun, tetapi juga sebagai ruang untuk menghubungkan dan mendampingi masyarakat ketika menghadapi persoalan tertentu.
PEMKRIS menyatakan terbuka bagi pemimpin dan tokoh Kristen dengan beragam latar belakang, mulai dari rohaniawan, cendekiawan, akademisi, birokrat, politisi, pengusaha, hingga unsur militer dan kepolisian.
Dengan karakter interdenominasi dan independen, organisasi tersebut membawa semangat memperkuat persatuan tanpa menjadi bagian dari kepentingan politik praktis.
Sejumlah agenda juga disiapkan, di antaranya pengembangan kaderisasi pemimpin Kristen, diskusi dan kajian, advokasi terhadap lembaga pendidikan, serta kegiatan sosial dan kemanusiaan.
PEMKRIS juga merencanakan pembentukan Crisis Center yang ditujukan sebagai wadah penerimaan dan penanganan persoalan mendesak berkaitan dengan hak-hak konstitusional masyarakat Kristen. (cmi)