- tvOnenews - Abdul Gani Siregar
Anak Ungkap Sisi Lain Bambang Setiawan Korban Kerusuhan Pejompongan: Beliau Seasik Itu Jadi Bapak
Jakarta, tvOnenews.com – Di balik kematian Bambang Setiawan (60), korban kerusuhan di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat, tersimpan cerita tentang sosok ayah yang dikenal sederhana, mudah bergaul, dan tidak pernah segan membantu orang lain.
Cerita itu disampaikan Wisnu (35), anak Bambang, saat ditemui tvOnenews.com di kawasan Pejompongan Raya, Jakarta Pusat, Minggu (30/8/2026).
Bagi Wisnu, ayahnya bukan sosok yang hanya dekat dengan orang-orang seusianya. Bambang dikenal mampu bergaul dengan siapa saja, termasuk anak-anak muda di lingkungan sekitarnya.
“Sosok Bapak semasa hidup yang saya lihat tuh gimana ya? Dia humble banget sih, dia bergaul enggak dengan yang seumuran beliau saja, tapi bergaul dengan bahkan yang lebih muda, ngobrol, bercanda, bahkan ya beberapa temanku juga akrab sama beliau, bahkan teman-teman adikku itu akrab sama dia karena ya beliau seasik itu jadi seorang Bapak,” jelas Wisnu sembari menahan air mata.
Kesan tersebut semakin kuat setelah Bambang meninggal dunia. Wisnu justru mendengar banyak cerita dari orang-orang yang mengenal ayahnya, termasuk dari mereka yang sebelumnya tidak pernah ia kenal.
“Dan setelah beliau enggak ada, aku dapat banyak cerita dari teman-teman beliau atau orang yang enggak aku kenal sekalipun, kalau ya yang aku sadari ya banyak-banyak cerita yang bikin ‘Oh ternyata beliau sebaik itu gitu’,” kata dia.
Salah satu hal yang paling dikenang Wisnu adalah kebiasaan Bambang membantu orang lain. Bahkan ketika dirinya sendiri berada dalam kondisi sulit, Bambang disebut tetap mendahulukan kepentingan orang lain.
“Terus dia tuh enggak apa ya, enggak pernah nahan buat ngebantu orang, mau dia mikir ya dianya ada atau enggak tapi buat ngebantu orang selalu diutamakan,” tuturnya.
Di balik sifatnya yang ringan tangan, Bambang ternyata pernah melewati masa sulit yang tidak banyak diketahui keluarganya.
Wisnu mendapat cerita bahwa selama sekitar tiga bulan berjualan cermin, Bambang tidak mendapatkan pembeli. Kondisi tersebut membuat Bambang harus menahan lapar dan bertahan dengan makanan seadanya.