- Istimewa
Mulai Tayang Hari Ini, Film Autopsy: Dead Body Can Talk Angkat Kisah Nyata Ahli Forensik dr Sumy Hastry
Jakarta, tvOnenews.com - Film terbaru Autopsy: Dead Body Can Talk siap membawa cerita tentang kisah nyata dokter forensik yang berusaha mengungkap misteri kematian melalui bukti-bukti yang ditemukan dari jenazah.
Film produksi Karya Kreatif Utama ini mengangkat genre forensic thriller yang masih jarang ditemukan dalam film Indonesia.
Durasi film tercatat 112 menit (1 jam 52 menit), dan telah mendapat klasifikasi 17 tahun ke atas (17+) dari Lembaga Sensor Film (LSF), sehingga cocok untuk penonton dewasa yang siap dengan tema forensik, mutilasi, dan tekanan psikologis.
Film ini terinspirasi dari kisah nyata dokter forensik Polri, Dr. Sumy Hastry Purwanti. Autopsy: Dead Body Can Talk digarap oleh sutradara Ozan Ruz dengan skenario yang ditulis M. Nurman Wardi.
Cerita berpusat pada Dr. Sumy Hastry Purwanti yang dalam film diperankan sebagai Dr. Hastry / Dr. Asri oleh Masayu Anastasia, seorang dokter forensik yang berpegang teguh pada sains dan fakta.
Selama ini, ia mengabdikan hidupnya untuk menerjemahkan jejak-jejak kematian menjadi bukti yang dapat mengungkap kebenaran, dengan keyakinan bahwa tubuh korban adalah saksi terakhir yang tidak pernah berdusta.
Konflik mulai memanas ketika Hastry menghadapi serangkaian kasus misterius, termasuk kasus mutilasi yang keji.
Di tengah kebuntuan penyelidikan, ia mulai menangkap firasat, empati, dan petunjuk yang tidak selalu bisa dijelaskan oleh logika.
Dari sinilah Hastry dipaksa menyeimbangkan ilmu forensik dengan kepekaan yang tidak sepenuhnya ia pahami, sementara kemampuan tersebut perlahan menguji integritas, keyakinan, kehidupan keluarganya, dan kredibilitasnya di hadapan para penyidik yang hanya percaya pada bukti.
Film ini semakin menonjol adalah cara ia tidak hanya bermain di ranah forensik, tetapi juga di wilayah psikologis dan spiritual tipis antara sains dan intuisi.
Hastry bukan sekadar dokter yang membedah mayat, melainkan perempuan yang harus berhadapan dengan luka-luka tidak terlihat, korban yang tidak terdengar, dan keadilan yang kadang datang lewat bisikan lirih dari mereka yang sudah tidak bisa bicara.
Pemeran lain yang ikut mengisi film ini antara lain Samuel Rizal, Teuku Rifnu Wikana, Ge Pamungkas, Riyuka Bunga, Indra Frimawan, Abdurrahman Arif, Zidni Hakim, Nagra Pakusadewo, dan Andrew Suleiman.