news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Lava pijar menyembur dari erupsi Gunung Anak Krakatau, pada Sabtu petang (5/9/2026)..
Sumber :
  • Istimewa

Gunung Anak Krakatau Keluarkan 'Air Mancur Lava', Apa Itu Fenomena Lava Fountain?

Apa itu lava fountain? Kenali proses terbentuknya air mancur lava, penyebab semburan merah pijar, serta kaitannya dengan erupsi Gunung Anak Krakatau 2026.
Minggu, 6 September 2026 - 10:03 WIB
Reporter:
Editor :

Fenomena serupa juga dapat terjadi pada pusat vulkanik basaltik lainnya, seperti Gunung Etna di Sisilia.

Namun, istilah "Hawaiian" dalam konteks ini tidak berarti fenomena tersebut hanya terjadi di Hawaii.

Lava fountain dapat muncul pada gunung api lain dengan kondisi magma dan sistem erupsi yang mendukung.

Kemunculan lava fountain tidak otomatis berarti sebuah gunung api sedang mengalami letusan terbesar atau paling berbahaya.

Mengapa Erupsi Anak Krakatau Disertai Gemuruh dan Getaran?

Selain semburan lava pijar, aktivitas Gunung Anak Krakatau pada 5 September 2026 juga disertai suara gemuruh dan dentuman.

Badan Geologi menyebut laporan suara dentuman dan getaran dari masyarakat di sejumlah wilayah Jawa Barat, Banten, dan Lampung diduga berkaitan dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang berlangsung pada waktu bersamaan.

Sejumlah warga bahkan melaporkan pintu dan jendela rumah bergetar.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa aktivitas erupsi tidak hanya dapat diamati secara visual, tetapi juga menghasilkan energi yang dapat menimbulkan gangguan suara maupun getaran di wilayah tertentu.

Meski demikian, seberapa kuat getaran yang dirasakan di suatu lokasi dapat berbeda-beda, bergantung pada sumber aktivitas, jarak, kondisi geologi setempat, dan karakter gelombang yang merambat.

Apakah Lava Fountain Anak Krakatau Berbahaya?

Meski terlihat spektakuler, lava fountain tetap merupakan fenomena erupsi yang berbahaya jika didekati.

Bahaya tidak hanya berasal dari lava yang mengalir, tetapi juga dapat berupa lontaran batu pijar, material vulkanik, abu, serta bahaya lain yang berkaitan dengan perubahan aktivitas gunung api.

Dalam laporan 5 September 2026, Badan Geologi menyatakan bahwa potensi ancaman bahaya saat itu berasal dari aliran lava yang dapat disertai lontaran batu pijar.

Masyarakat, wisatawan, dan pendaki juga dilarang melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau.

BNPB juga mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan mengikuti informasi serta rekomendasi resmi dari otoritas terkait.

Pada perkembangan berikutnya, abu vulkanik dari aktivitas Anak Krakatau juga berdampak pada sejumlah wilayah.

Reuters melaporkan bahwa abu bahkan menyebabkan gangguan penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta pada 6 September 2026.

Berita Terkait

1 2
3
4 Selanjutnya

Topik Terkait

Saksikan Juga

01:57
02:03
05:04
05:34
01:25
04:56

Viral