- istimewa - Antara
Bukan Gunung Biasa, Mengenal Sejarah Gunung Anak Krakatau dari Letusan 1883 hingga Erupsi 2026
Perubahan bentuk dan runtuhnya tubuh gunung ke laut juga dapat menimbulkan bahaya tsunami.
Setelah 2018, Anak Krakatau Kembali Membangun Tubuhnya
Erupsi dan longsoran pada 2018 menyebabkan perubahan besar pada bentuk Gunung Anak Krakatau.
Setelah peristiwa tersebut, aktivitas erupsi berskala rendah terus berlangsung hingga 16 Desember 2023.
Badan Geologi menyebut rangkaian erupsi tersebut merupakan bagian dari fase konstruksi pertumbuhan kembali Gunung Anak Krakatau.
Setelah mengalami jeda, aktivitas erupsi kembali tercatat pada 2 Juli 2026.
Sejak tanggal tersebut, status Gunung Anak Krakatau berada pada Level III atau Siaga. Aktivitas erupsi bertipe Strombolian dengan lontaran batu pijar dan abu vulkanik kemudian terus berlangsung hingga September 2026.
Artinya, erupsi September 2026 bukanlah aktivitas yang muncul secara tiba-tiba tanpa rangkaian aktivitas sebelumnya.
Gunung tersebut telah menunjukkan aktivitas vulkanik selama beberapa waktu sebelum memasuki fase erupsi menerus dan menampilkan lava fountain.
Lava Fountain pada Erupsi September 2026
Salah satu fenomena paling mencolok dari erupsi terbaru adalah kemunculan lava fountain.
Fenomena ini terjadi ketika material lava pijar menyembur keluar dari pusat erupsi dan terlihat seperti pancuran atau air mancur.
Pada malam hari, semburan tersebut tampak merah menyala karena temperatur lava yang sangat tinggi. Sebagian material dapat kembali jatuh di sekitar pusat erupsi, sementara material lava yang masih cair dapat mengalir mengikuti permukaan gunung.
Badan Geologi menyebut erupsi menerus selama beberapa jam yang berasosiasi dengan lava fountain merupakan fenomena yang umum terjadi.
Kemunculan lava fountain juga memperlihatkan bahwa aktivitas magma di bawah Anak Krakatau masih berlangsung secara aktif.
Sejarah Anak Krakatau menunjukkan bahwa gunung ini merupakan sistem vulkanik yang terus berubah.
Gunung tersebut lahir dari kawasan yang mengalami kehancuran besar pada 1883.
Beberapa dekade kemudian, aktivitas vulkanik kembali membangun gunung baru dari bawah laut. Setelah muncul ke permukaan, tubuhnya terus bertambah melalui erupsi.
Namun, pengalaman 2018 menunjukkan bahwa proses tersebut tidak selalu berjalan satu arah. Gunung yang sedang tumbuh juga dapat kehilangan sebagian tubuhnya akibat aktivitas vulkanik dan longsoran.