- YIARI
Karhutla Kalimantan Ancam Orang Utan, Pakar IPB: Kepunahan Bisa Jadi Kenyataan
Paparan partikel tersebut berpotensi menyebabkan saluran pernapasan hingga paru-paru orang utan mengalami peradangan dan iritasi.
Dalam jangka pendek, paparan asap dapat membuat orang utan mengalami kekurangan oksigen, batuk hingga sesak napas.
Sementara dalam jangka panjang, dampaknya dapat menjadi lebih serius. Paparan asap berpotensi menyebabkan bronkitis dan penyakit paru obstruktif kronis.
Dampak asap karhutla juga dapat memengaruhi metabolisme dan sistem imun orang utan melalui stres oksidatif.
Kondisi tersebut dapat membuat orang utan kehilangan nafsu makan. Akibatnya, satwa dapat menjadi lebih lemas, kurang aktif dan mengalami penurunan berat badan.
"Bahkan, stres fisiologis akibat paparan asap berpotensi mengganggu sistem reproduksi dan menambah tekanan terhadap populasi orang utan," kata Ronny.
Karhutla Dinilai Bukan Lagi Masalah Lokal
Ronny menilai persoalan karhutla di Indonesia saat ini tidak lagi dapat dilihat hanya sebagai masalah lokal. Dampaknya telah meluas hingga menyentuh berbagai aspek, mulai dari keseimbangan iklim, kesehatan hingga perekonomian.
Dampak kabut asap yang turut dirasakan negara tetangga juga membuat persoalan karhutla Indonesia menjadi perhatian lintas negara.
Menurut Ronny, kondisi tersebut membuat negara-negara tetangga yang ikut terdampak memiliki alasan untuk menuntut langkah nyata dari Indonesia dalam menghentikan siklus kebakaran hutan.
Karena itu, diperlukan upaya pencegahan dan penanganan yang dilakukan secara berkelanjutan. Salah satunya melalui penegakan hukum yang tegas terhadap pihak yang melakukan pembakaran hutan dan lahan.
Selain itu, Ronny mendorong peningkatan komitmen iklim global serta transparansi mengenai data dan dampak karhutla.
Transparansi dinilai penting agar dunia internasional dapat ikut membantu melakukan pemantauan terhadap dampak kebakaran hutan dan lahan.
Kerja sama regional juga dinilai perlu diperkuat untuk meningkatkan koordinasi lintas batas sehingga dampak kabut asap dapat dikurangi.
"Melakukan pencegahan kebakaran hutan secara berkelanjutan, menegakkan hukum yang tegas bagi pembakar hutan dan lahan, meningkatkan komitmen iklim global, serta meningkatkan transparansi data dan dampak agar dunia dapat membantu memantau, serta meningkatkan kerja sama regional untuk memperkuat koordinasi lintas batas guna mengurangi dampak kabut asap," tegasnya.