- Kemendikdasmen
Kemendikasmen Revitalisasi 1.487 Sekolah di NTT Pascagempa, SDN Mboeng Ditargetkan Tahun Ini
Jakarta, tvOnenews.com - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) akan melakukan revitalisasi terhadap ribuan sekolah di Nusa Tenggara Timur (NTT) pascabencana gempa bumi yang melanda pada Agustus 2026 lalu.
Pada tahun ini, Sekolah Dasar Negeri (SDN) Mboeng, Kabupaten Manggarai Timur, segera mendapatkan program revitalisasi.
Direktur Sekolah Dasar Kemendikdasmen Moch. Salim Somad mengatakan perbaikan tersebut menyasar sejumlah bagian bangunan sekolah yang mengalami kerusakan berat maupun ruang belajar yang selama ini masih menggunakan bangunan darurat.
Adapun dalam hal ini Kemendikdasmen telah turun langsung untuk melihat kondisi sekolah sekaligus memastikan kebutuhan perbaikan yang diperlukan.
“Sudah turun (Kemendikdasmen), langsung diperbaiki kelas yang rusak berat maupun yang darurat,” kata Salim, dalam keterangannya, Kamis (10/9/2026).
Diketahui bahwa saat ini SDN Mboeng memiliki 84 siswa yang terbagi dalam enam rombongan belajar dan memiliki 10 tenaga kependidikan.
Dari lima total bangunan permanen, dua ruang kelas di antaranya mengalami kerusakan berat sehingga tidak dapat digunakan secara optimal untuk kegiatan pembelajaran.
Keterbatasan ruang kelas membuat SDN Mboeng saat ini masih menggunakan empat ruang kelas darurat.
Bahkan, Salim menjelaskan bahwa sebagian pembangunan ruang kelas yang digunakan sekolah berasal dari swadaya masyarakat, khususnya orang tua siswa.
“Sebagian pembangunan dari swadaya orang tua siswa,” jelas Salim.
Salim menjelaskan, berdasarkan data pokok pendidikan (Dapodik), SDN Mboeng tercatat memiliki sumber listrik.
Atas dasar data tersebut, sekolah menjadi salah satu penerima perangkat televisi yang digunakan untuk menunjang proses pembelajaran.
“Digitalisasi di sekolah berjalan, perbaikan fisik sekolah juga dilakukan,” terangnya.
Salim menuturkan program digitalisasi pendidikan dan revitalisasi sarana-prasarana sekolah tidak harus dipandang sebagai dua kebijakan yang saling bertentangan.
Keduanya berjalan secara bersamaan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas layanan pendidikan.
“Program digitalisasi ditujukan untuk memperluas akses siswa terhadap sumber dan metode pembelajaran yang lebih beragam. Sementara revitalisasi infrastruktur diarahkan untuk memastikan lingkungan sekolah memiliki bangunan dan ruang belajar yang aman serta layak digunakan,” ucap Salim.
Tidak hanya SDN Mboeng, Kemendikdasmen mencatat program revitalisasi sekolah di NTT memiliki cakupan yang cukup besar.
Secara keseluruhan, revitalisasi hingga 2026 menyasar 1.487 satuan pendidikan di NTT. Adapun pada tahun 2025, terdapat 580 satuan pendidikan yang menjadi sasaran revitalisasi.
“Pada 2026, jumlah satuan pendidikan yang mendapatkan program tersebut meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Untuk 2026 ini jumlahnya lebih banyak. Anggaran mencapai Rp1,2 triliun,” ungkap Salim.
Revitalisasi diharapkan tidak hanya memperbaiki kondisi bangunan yang rusak, tetapi juga menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih aman, sehat, dan mendukung proses belajar mengajar.
“Ketersediaan ruang kelas yang layak menjadi bagian penting dalam memastikan siswa dapat mengikuti pembelajaran tanpa harus berada dalam kondisi bangunan yang membahayakan,” ucapnya.
Selain aspek fisik, pemerintah juga mendorong peningkatan kualitas pembelajaran.
Dengan demikian, revitalisasi sekolah tidak berhenti pada pembangunan atau perbaikan bangunan, tetapi diarahkan untuk mendukung peningkatan mutu pendidikan secara keseluruhan.
Kemendikdasmen juga memberikan apresiasi kepada berbagai pihak yang selama ini memberikan perhatian terhadap kondisi pendidikan di daerah, termasuk masyarakat yang ikut membantu pembangunan fasilitas sekolah melalui swadaya.
Salim menegaskan pemerintah berkomitmen untuk terus menghadirkan sekolah yang aman dan layak bagi seluruh peserta didik.
Upaya tersebut menjadi bagian dari agenda pemerataan akses pendidikan, terutama bagi siswa yang berada di wilayah dengan keterbatasan sarana dan prasarana.
“Termasuk pembelajaran yang bermutu, serta akses pendidikan yang merata,” jelas Salim.
Dengan adanya revitalisasi tersebut, SDN Mboeng diharapkan tidak lagi menghadapi persoalan ruang kelas rusak berat dan ruang belajar darurat.
Perbaikan fisik sekolah sekaligus diharapkan dapat memperkuat pemanfaatan teknologi pembelajaran yang telah diberikan pemerintah. (ars/nsi)