- tvOnenews.com/Wildan Mustofa
Rupiah Melemah ke Rp 17.585 Dibayangi Tekanan Harga Minyak Dunia terhadap Ketahanan Fiskal RI
Jakarta, tvOnenews.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi akan bergerak melemah pada perdagangan hari ini.
Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar AS berada di level Rp 17.536 pada Kamis, 10 September 2026. Posisi rupiah itu menguat 16 poin dari kurs sebelumnya di level Rp 17.552 pada perdagangan Rabu, 9 September 2026.
Sementara perdagangan di pasar spot pada Jumat, 11 September 2026 hingga pukul 09.01 WIB rupiah ditransaksikan di Rp 17.585 per dolar AS. Posisi itu melemah 38 poin atau 0,22 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 17.547 per dolar AS.
Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, meskipun pemerintah mengisyaratkan anggaran negara berada dalam posisi aman, risiko fiskal akibat tingginya harga minyak dunia tetap membayangi stabilitas perekonomian.
Tingginya harga minyak mentah memicu kekhawatiran utama pada beberapa sektor. Kenaikan harga minyak secara otomatis meningkatkan alokasi anggaran untuk subsidi dan kompensasi energi (BBM dan LPG).
Jika penerimaan negara tidak mampu mengimbangi lonjakan pengeluaran subsidi, risiko pelebaran defisit anggaran di atas target meningkat. Dan apabila impor minyak yang mahal meningkatkan kebutuhan dolar AS, hal itu dapat memperlemah nilai tukar mata uang domestik.
Jika pemerintah terpaksa menyesuaikan harga BBM domestik untuk mengurangi beban APBN, hal ini akan memicu inflasi dan menekan daya beli masyarakat.
Pemerintah umumnya mengandalkan "bantal fiskal" (fiscal buffer) seperti kenaikan pendapatan dari ekspor komoditas lain (windfall) untuk menjaga agar anggaran tetap aman. Namun, ketidakpastian pasar global membuat kewaspadaan terhadap kesinambungan fiskal tetap menjadi prioritas.
Meski demikian, tekanan penurunan tertahan oleh sentimen konsumen bulan Agustus 2026 yang mencapai level tertinggi dalam tiga bulan. Hal itu didorong oleh kondisi keuangan rumah tangga yang lebih kuat dan prospek ekonomi yang lebih cerah.
Walaupun, peningkatan konsumsi belum dibarengi dengan adanya kenaikan pendapatan masyarakat, sehingga demi menopang belanja masyarakat masih terjerat fenomena makan tabungan.
"Mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 17.540-Rp 17.590," ujarnya.
Sebagai informasi, Iran dan AS kembali terlibat dalam serangkaian serangan terparah terhadap kapal-kapal sejak konflik bermula pada bulan Februari 2026, di tengah kembali memanasnya pertempuran antara kedua pihak setelah sempat mereda sejenak pada bulan Agustus lalu.
Iran menyatakan telah menyerang 10 kapal di dalam dan sekitar Selat Hormuz pada hari Rabu kemarin, sementara AS mengaku telah membalas dengan menenggelamkan lima kapal tanker minyak Iran.
Kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran menyerang infrastruktur energi Arab Saudi pekan ini, yang semakin menambah kekhawatiran akan gangguan pasokan. Serangan Houthi tersebut memperparah kekhawatiran bahwa gangguan pasokan di kawasan Teluk akan meluas hingga ke luar wilayah Hormuz, sebuah skenario yang berpotensi semakin memangkas pasokan global.
Mohammad Yudha Prasetya/VIVA