- istimewa
Viral Air Laut Surut karena Erupsi Anak Krakatau hingga Sebabkan Tsunami, Badan Geologi Beri Penjelasan
Bandung, tvOnenews.com - Viral di media sosial video yang memperlihatkan kondisi air laut surut dan dikaitkan dengan erupsi Gunung Anak Krakatau.
Dalam narasi yang beredar, surutnya air laut disebut sebagai pertanda akan terjadinya bencana tsunami.
Namun, informasi tersebut dibantah oleh Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Badan Geologi memastikan tidak ada kaitan antara fenomena air laut surut dalam video tersebut dengan erupsi Gunung Anak Krakatau.
- istimewa
Surveyor Pemetaan Ahli Madya Badan Geologi Kementerian ESDM, Athanasius Cipta, mengatakan video tersebut memang beredar dalam beberapa hari terakhir.
Video itu kemudian dikaitkan dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi pada 4 hingga 5 September 2026.
“Memang beberapa hari ini muncul sebuah video yang memperlihatkan air laut yang surut, yang kemudian menghubungkannya dengan letusan Gunung Anak Krakatau yang dimulai pada 4 sampai 5 September 2026 lalu,” katanya di Bandung, pada Minggu (13/9/2026).
Menurut Athanasius, Badan Geologi telah menyatakan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau selesai pada tengah malam 6 September 2026.
Dengan demikian, fenomena surutnya air laut yang terlihat dalam video tersebut tidak dapat
"Artinya, bisa disimpulkan bahwa surut laut pada tanggal 6 September 2026 itu tidak ada kaitan langsung dengan erupsi Gunung Anak Krakatau," katanya.
Athanasius Cipta menyamapaikan kemudian muncul pertanyaan, apakah surut laut merupakan pertanda tsunami? Betul, surutnya laut dapat—tetapi tidak selal menjadi tanda akan datangnya tsunami.
Ia mengatakan surutnya air laut berlangsung dengan sangat cepat, artinya surut dengan sangat cepat dan jauh lebih jauh daripada surut normal (surut pasang surut).
"Apakah pernah memicu terjadinya tsunami? Pernah. Yang terakhir tentu kita masih ingat pada tahun 2018, Desember 2018, erupsi Gunung Anak Krakatau memicu tsunami yang menyapu pantai barat Banten dan juga Kalianda, Lampung," katanya.
Sebelumnya, tsunami yang paling besar yang pernah terjadi akibat letusan Gunung Anak Krakatau adalah pada tahun 1883. Saat itu namanya adalah Gunung Krakatau.
Erupsi pada tanggal 26 Agustus 1883 memicu terjadinya tsunami di Teluk Betung setinggi 22 meter, di pantai barat Banten (sekitar Carita dan Anyer) sekitar 15 meter, bahkan di Tanjung Priok, Jakarta tercatat adanya kenaikan air sekitar 1,8 meter.
Previously juga Krakatau Purba tahun 416 juga pernah meletus dan menyebabkan tsunami.
"Namun, sejak tahun 2018 hingga sekarang, Badan Geologi tidak menemukan adanya indikasi bahwa Gunung Anak Krakatau akan meletus besar sehingga merobohkan sebagian tubuhnya dan memicu terjadinya tsunami," katannya. (cep/muu)