- tvOnenews.com/Abdul Gani Siregar
Purbaya Dipecat Mendadak jadi Menkeu, Pengamat Tegaskan Investor Asing Mode Waswas
Namun, efisiensi tersebut bukan berarti menghentikan program MBG. Penghematan, menurut dia, dapat diarahkan pada komponen belanja yang tidak produktif sehingga tujuan utama program tetap berjalan.
Pagu awal MBG yang mencapai sekitar Rp330 triliun dinilai Ibrahim cukup besar jika dibandingkan dengan kesiapan tata kelola program di lapangan. Karena itu, penurunan anggaran menjadi sekitar Rp262,5 triliun, kemudian Rp232,5 triliun untuk sekitar 72,46 juta penerima, masih dianggap realistis.
Bahkan, Ibrahim melihat pemerintah masih memiliki ruang untuk memangkas anggaran MBG hingga di bawah Rp200 triliun, selama efisiensi dilakukan tanpa mengorbankan tujuan utama program.
“Yang perlu dijaga bukan besarnya anggaran MBG, tetapi efektivitas belanjanya. Kalau ruang efisiensi di BGN masih ada, pemangkasan seharusnya dilanjutkan,” ujarnya.
Menurut Ibrahim, efisiensi dapat menyasar berbagai sumber pemborosan, mulai dari biaya operasional, pengelolaan dapur, hingga logistik. Pemerintah juga dinilai perlu mengevaluasi cakupan program agar anggaran yang digelontorkan benar-benar memberikan manfaat optimal kepada penerima. (agr/ree)