- istimewa
Darurat Ekologi Mentawai! Populasi Bilo Klos Gibbon Turun 42 Persen Sisa 11.900 Ekor
Dari kacamata sains dan konservasi primata, Direktur SwaraOwa, Arif Setiawan (Wawan), menyajikan data hasil pemantauan populasi Bilo terkini yang dikumpulkan sejak tahun 2023 hingga 2024 di Pulau Siberut, Sipora, serta Pagai Utara dan Selatan. Penelitian ini menggunakan metode vocal count (penghitungan suara) mengingat sifat Bilo yang sangat sensitif terhadap kehadiran manusia. Hasil survei memperlihatkan tren penurunan populasi yang sangat mengkhawatirkan.
"Estimasi kerapatan kelompok Bilo per kilometer perseginya di Taman Nasional Siberut itu 1,83, kemudian di luar TN Siberut itu 0,79 group per kilometer persegi. Di Sipora hanya 0,32, sangat rendah sekali. Di Pagai Utara dan Pagai Selatan ada 0,53 group per kilometer persegi. Kalau kita hitung populasinya, di dalam Taman Nasional ada sekitar 7.800 individu, di luar Taman Nasional di Siberut ada sekitar 2.900, di Sipora paling kritis kondisinya saat ini populasi diperkirakan hanya 229 individu, dan di Pagai Utara Selatan masih ada 943 individu. Seluruh Pulau Mentawai ada 11.900-an individu," jelas Wawan.
Angka tersebut menunjukkan adanya penurunan total populasi Bilo hingga 42 persen selama kurun waktu dua puluh tahun terakhir (sejak estimasi awal tahun 2005), atau rata-rata menyusut 2,3 persen setiap tahunnya. Penurunan ini dipicu oleh dua kombinasi ancaman utama: perburuan liar dan hilangnya tutupan hutan.
"Bilo ini penting secara ekologi. Pertama dia bisa berperan sebagai spesies payung, karena Bilo ini sangat spesifik, untuk bertahan hidup butuh spesifik habitat yang paling bagus. Ketika hutannya ini terjaga untuk Bilo, otomatis spesies yang lain akan terjaga juga. Yang kedua, untuk fungsi regenerasi hutan, Bilo ini hampir 70 persen lebih makannya buah-buahan hutan. Dia berperan sebagai pemencar biji-bijian hutan," papar Wawan mengenai peran krusial primata ini.
Wawan mengungkapkan bahwa erosi budaya turut mempercepat laju perburuan Bilo. Jika dulu berburu Bilo dibatasi oleh norma dan tabu adat, saat ini perburuan marak dilakukan menggunakan senapan angin berkekuatan gas yang dengan mudah dibeli secara daring oleh warga. Motivasi perburuan pun bergeser dari kebutuhan adat menjadi sekadar kegiatan rekreasi atau mengisi waktu luang. Kombinasi perburuan dan kerusakan kanopi hutan menjadi ancaman mematikan bagi Bilo, mengingat primata arboreal ini bersifat monogami dan hanya melahirkan anak setiap tiga tahun sekali.