news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Foto 5 jurnalis sebelum hilang kontak saat meliput Gunung anak Krakatau.
Sumber :
  • Tangkapan layar YouTube tvOneNews

Lima Jurnalis yang Hilang saat Meliput Gunung Anak Krakatau adalah Pejuang Berita di Era AI

Ketua Forum Pemred menyebut kelima jurnalis yang hilang saat meliput erupsi Gunung Anak Krakatau sebagai pejuang berita di era AI. Dedikasi mereka adalah bentuk komitmen terhadap profesi.
Rabu, 23 September 2026 - 20:53 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com - Duka atas hilangnya lima jurnalis yang menjalankan tugas peliputan di sekitar Gunung Anak Krakatau Selat Sunda, menjadi refleksi penting atas dedikasi para wartawan dalam menjalankan profesi.

Ketua Forum Pemimpin Redaksi (Pemred) Retno Pinasti menyebut kelima jurnalis tersebut sebagai pejuang informasi dan berita di tengah perkembangan era kecerdasan buatan (AI).

Hal itu disampaikan Retno dalam acara "Doa Bersama dan Solidaritas untuk 5 Jurnalis" yang berlangsung di Gedung Dewan Pers, Jakarta, Senin, 21 September 2026.

"Ini adalah bentuk dedikasi paripurna bagi jurnalisme Indonesia, jurnalisme publik di era AI," katanya, dikutip Rabu (23/9/2026).

Retno menyinggung bahwa perkembangan teknologi saat ini telah memungkinkan berbagai gambar atau visual direkayasa menggunakan AI.

Teknologi ini juga dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan informasi palsu atau hoaks.

Di tengah disrupsi industri media tersebut, kelima jurnalis adalah contoh pejuang yang memilih menghadapi tantangan dengan berupaya menghadirkan karya jurnalistik berbasis fakta lapangan.

"Kelima teman kita memilih untuk berjuang bahkan mempertaruhkan keselamatannya untuk mendapatkan fakta dan bukti dari sebuah peristiwa, dari sebuah bencana untuk disampaikan kepada publik," ujar dia.

Atas dedikasi tersebut, Retno menyampaikan penghormatan kepada lima jurnalis yang hingga kini belum ditemukan.

"Simpati kami untuk seluruh keluarga juga, untuk kelima teman dan juga tiga awak kapal yang masih belum pulang dalam bertugas. Semoga seluruh keluarga dan kita semua komunitas jurnalis Indonesia mendapatkan kekuatan. Terima kasih," ucap dia.

Operasi pencarian dan pertolongan (SAR) terhadap lima jurnalis dan tiga kru kapal cepat KM Arupadatu I yang hilang kontak di perairan Selat Sunda resmi dihentikan pada 17 September 2026 setelah berlangsung selama 10 hari sebelum dinyatakan berakhir.

Satu Korban Teridentifikasi

Terbaru, Polda Banten mengungkap hasil pemeriksaan dari penemuan mayat laki-laki Mr.X oleh seorang nelayan di Pulau Enggano, Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu, pada Sabtu (12/9).

Kapolda Banten, Irjen Pol Hengki mengatakan, jasad tersebut teridentifikasi sebagai Surakman alias ABK Kapal Arupadatu 1 yang membawa lima jurnalis untuk liputan melihat aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.

“Hasil identifikasi berdasarkan hasil pemeriksaan DNA operasi DVI Pusdokkes Polri terhadap seorang mayat Mr. X yang ditemukan di Pulau Enggano, Bengkulu bahwa secara genetik PM/62/P.ENGGANO/01 itu kode jenazah Mr. X tadi, teridentifikasi sebagai Surakman atau ABK kapal, ayah biologis dari Tuan Yayat,” kata Hengki, saat konferensi pers, Rabu (23/9).

Lebih lanjut, Hengki menjelaskan bahwa Yayat diketahui sebagai putra kandung dari Surahman ABK Kapal Aru Padatu 1 yang meliput erupsi Gunung Anak Krakatau pada tanggal 7 September 2026.

Tidak Ada Perpanjangan Pencarian

Basarnas Banten menegaskan bahwa tidak ada perpanjangan pencarian lima jurnalis dan dua kru kapal Arupadhatu yang hilang di perairan Selat Sunda saat hendak melakukan liputan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.

Kepala Kantor Basarnas Banten Al Amrad mengatakan saat ini pihaknya fokus pada e-broadcast dan pemapelan. 

Hal ini dilakukan lantaran secara aturan pencarian itu terlaksana selama 7 hari dan sudah diperpanjang 3 hari. 

“Di 7 hari itu kita menemukan jenazah pada tanggal 12 September 2026. Sampai tanggal 14 kita evaluasi, kita perpanjang 3 hari. Setelah 3 hari itu tidak ada tanda-tanda korban, makanya kita lakukan dengan tindak lanjut e-broadcast dan pemapelan,” kata Al Amrad, kepada wartawan, Rabu (23/9/2026).

Al Amrad mengatakan saat ini pihaknya juga telah melakukan koordinasi dengan Kantor SAR Bengkulu dan Kantor SAR Lampung untuk wilayah pesisir, dan para nelayan yang ada di sekitar. 

“Hingga saat ini Bengkulu masih melaksanakan koordinasi dan itu nihil, termasuk yang di wilayah Lebak. Nah, jadi tindakan yang kita ambil setelah tanggal 17 seperti yang kami sampaikan di awal adalah pemapelan termasuk e-broadcast terhadap instansi terkait, termasuk nelayan dan para masyarakat yang di pesisir, termasuk yang di sekitar Pulau Enggano,” ungkap Al Amrad. (ant/rpi)

 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

08:02
05:10
03:00
05:01
06:41
06:14

Viral