news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Makam Reyhan Arisyah Putra, siswa SD Negeri 03 Poncowarno, Kecamatan Kalirejo, Lampung Tengah, yang meninggal dunia diduga setelah tersedak biji kelengkeng menu MBG.
Sumber :
  • tvOneNews

Kronologi Siswa SD di Lampung Tengah Meninggal Dunia Diduga setelah Tersedak Kelengkeng Menu MBG

Reyhan Arisyah Putra, siswa SD Negeri 03 Poncowarno, Kecamatan Kalirejo, Lampung Tengah, meninggal dunia diduga akibat tersedak biji kelengkeng dari menu MBG.
Kamis, 24 September 2026 - 07:37 WIB
Reporter:
Editor :

Lampung Tengah, tvOnenews.com - Seorang siswa sekolah dasar (SD) di Lampung Tengah, Reyhan Arisyah Putra meninggal dunia diduga setelah tersedak biji kelengkeng dari menu Makanan Bergizi Gratis (MBG).

Reyhan Arisyah yang merupakan siswa kelas 3 SD Negeri 03 Poncowarno, Kecamatan Kalirejo, Lampung Tengah, meninggal dunia pada Selasa (22/9/2026). Peristiwa siswa SD itu diduga tersedak biji kelengkeng menu MBG di tengah kegiatan sekolah sekitar pukul 08.30 WIB.

Siswa SD tersebut saat itu menyantap makanan program MBG berasal dari SPPG 1 Dapur 1 Poncowarno. Menu yang dibagikan untuk siswa SDN 03 Poncowarno.

Kasatreskrim Polres Lampung Tengah, AKP M Prenanta Al Ghazali membenarkan adanya siswa SD tersedak biji kelengkeng. Reyhan saat itu memakan buah tersebut sambil bermain dan berlari-larian bersama temannya.

"Jadi, sewaktu korban makan buah kelengkeng yang merupakan menu MBG di ruang kelas 3, korban sambil bermain lari-larian kemudian tersedak," ujar Prenanta, Kamis (24/9/2026).

Siswa SD Minta Bantuan

Potret jenazah Reyhan Arisyah Putra, siswa SD di Lampung Tengah yang meninggal dunia diduga akibat tersedak biji kelengkeng menu MBG akan dimakamkan warga
Sumber :
  • tvOneNews

Reyhan yang mengalami tersedak biji buah kelengkeng sempat langsung meminta pertolongan. Ia berharap teman sekelasnya bernama Davin membantu dirinya.

Siswa kelas 3 SD itu kemudian keluar dari ruang kelas. Reyhan tampak terus memegang lehernya untuk mencari pertolongan kepada penjaga sekolah atau sekuriti bernama Ahmad Surahman.

Ahmad pun langsung sigap terhadap kode yang diberikan oleh Reyhan. Penjaga sekolah coba memberikan pertolongan pertama dengan cara menepuk punggung siswa SD tersebut.

Sayangnya kondisi siswa SD itu belum kunjung membaik. Reyhan pun akhirnya dibawa ke ruang kepala sekolah guna mendapatkan pertolongan lebih lanjut dari pihak guru dan sekolah.

"Korban sempat memuntahkan siswa makanan. Akan tetapi, buah  kelengkeng yang tertelan itu tidak keluar," terangnya.

Suasana Berubah Jadi Panik

Sementara, Kepala Kampung Poncowarno, Heri Eliyanto membenarkan adanya kejadian tersebut. Pada saat itu kebetulan ada siswa lain yang melihat Reyhan telah mengalami sesak napas.

Siswa SD tersebut bahkan tampak kejang sehingga membuat siswa lainnya segera menginformasikan kondisi Reyhan kepada guru yang berada di lokasi. Situasi pun berubah menjadi tegang dan panik.

"Tanpa membuang waktu dan tanpa menunggu kendaraan dinas maupun ambulans, para guru langsung membawa Reyhan ke Puskesmas terdekat," jelasnya.

Reyhan saat itu dibawa menuju Puskesmas Poncowarno. Adapun jarak antara sekolah dan puskesmas sekitar 500 meter.

Reyhan kemudian mendapat penanganan medis darurat. Akan tetapi, siswa kelas 3 SD ituu mau tak mau harus dirujuk menuju RS Kartini Kalirejo agar bisa ditangani lebih lanjut.

"Sayangnya setibanya di ruangn perawatan medis rumah sakit, nyawa bocah berusia 9 tahun itu sudah tidak dapat diselamatkan lagi oleh tim medis," ucapnya.

Reyhan sempat mendapat pemeriksaan oleh petugas medis di ruang UGD. Namun, nyawa korban tidak tertolong sehingga dinyatakan meninggal dunia di rumah sakit.

Jenazah Siswa SD Dibawa ke Rumah Duka

Korban yang dinyatakan meninggal dunia pun dibawa ke rumah duka. Proses pemakaman berlangsung sekitar pukul 11.00 WIB di tempat pemakaman setempat.

"Prosesi pemakaman dihadiri oleh jajaran Muspika, termasuk Camat, Kapolsek Kalirejo, Kepala Kampung, serta jajaran guru dan warga sekitar," tuturnya.

Guru Sempat Imbau Siswa Jangan Langsung Konsumsi MBG

Lebih lanjut, Heri menyampaikan bahwa, pihak sekolah sebenarnya telah memberikan imbauan. Para siswa jangan langsung terburu-buru mengonsumsi makanan MBG yang baru dibagikan oleh pihak SPPG.

Pada saat itu kebetulan sekolah tengah menggelar kegiatan ekstrakurikuler. Pihak guru pendamping juga telah melakukan pengawasan, namun hal tersebut tidak berlangsung secara terus-menerus.

"Guru pendamping sudah mengawasi dan mengimbau agar makanan dikonsumsi nanti. Namun namanya anak-anak, dengan jumlah puluhan anak dan pengawas terbatas, begitu melihat kelengkeng, mereka senang," paparnya.

Heri menyampaikan bahwa, kejadian ini tentu menjadi tamparan bersama. Peristiwa siswa SD meninggal dunia diduga akibat tersedak biji kelengkeng jangan dianggap sebuah musibah semata dan langsung tuntas.

Ia berpenndapat setidaknya harus ada pembenahan. Hal ini bertujuan agar kejadian sepele namun berbahaya yang serupa tidak terulang lagi ke depannya.

"Ini benar semua takdir dari Allah, garis hidup anak yang enggak mungkin bisa dihindari. Besar harapan kami menjadikan ini pembenahan dan koreksi diri masing-masing. Jangan dianggap ini semata musibah terus berlalu, takutnya nanti kejadian lagi," imbau Heri.

Guru Terpukul

Lanjut Heri, kabar meninggalnya Reyhan tidak hanya berdampak pada keluarga. Tekanan emosional juga melanda para guru di sekolah tersebut.

Kata Heri, sejumlah guru merasa terpukul hingga merasa kehilangan lantaran salah satu siswa kelas 3 SD mereka meninggal dunia.

"Para dewan guru merasa tertekan, merasa disalahkan, dan bersedih luar biasa. Padahal kita tahu bersama, tugas utama seorang guru adalah mendidik dan memandaikan anak bangsa," ucapnya.

Heri berharap agar masyarakat khususnya warga sekitar jangan langsung menyalahkan pihak sekolah. Pasalnya, para guru juga merasa sangat kehilangan.

"Ini musibah. Ibu-ibu guru juga merasa sangat kehilangan. Mereka merawat dan mendidik anak-anak itu. Musibah ini bukan semata-mata kelalaian mereka. Pengawasan terhadap puluhan anak aktif tentu memiliki batas," tegasnya.

Ia memberikan dukungan kepada para guru. Setelah kejadian ini, mereka diharapkan tetap dapat menjalankan tugas seperti biasanya.

"Mari kita memberikan dukungan moral kepada mereka, jangan sampai semangat mereka patah dalam membina generasi penerus," ajak dia.

Sementara, Kepala Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) setempat, Yogi Ganda menyatakan belum ada panduan khusus dari Badan Gizi Nasional (BGN) terkait jenis buah yang tidak boleh disajikan dan bisa disantap siswa dalam program MBG.

Yogi mengatakan, dari kejadian ini tentu membuat pihaknya akan berkoordinasi untuk sementara. Hal tersebut bertujuan menghindari jenis makanan tertentu.

"Dari BGN belum ada pemberitahuan masalah buah yang dilarang. Ke depannya, mungkin kita koordinasi dengan Korcam dan koordinator wilayah untuk menghindari jenis makanan tersebut sementara waktu," ujar Yogi.

(hap)

 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

04:00
07:00
12:55
01:51
05:29
08:02

Viral