- Antara
Rela Lepas Seragam Sekolah demi Orang Tua, Kisah Habibi Bocah 12 Tahun yang Jualan Siomay di Bintaro
Jakarta, tvOnenews.com - Beban hidup yang menghimpit keluarga memaksa Habibi, anak laki-laki berusia 12 tahun, menunda masa depannya di bangku pendidikan.
Di usia yang masih belia, ia memilih mengadu nasib dengan menjajakan siomay di bilangan Bintaro Sektor 1, Jakarta Selatan, demi meringankan beban ibunya setelah sang ayah jatuh sakit dan tidak berdaya untuk bekerja.
Keputusan tersebut bermula ketika Habibi, yang sebelumnya menempuh pendidikan kelas 6 SD di Cirebon, datang ke Jakarta pada masa libur Ramadan lalu.
Menyaksikan sang ibu, Wati Susilawati (35), membanting tulang sendirian di gerobak jualan, nuraninya tergerak untuk tinggal dan ikut memikul tanggung jawab.
"Dia bilang, 'Saya sendirian jadi kasihan. Ya sudah, Ma, saya mau bantu Mama saja, kasihan Mama sendirian. Nanti gantian jualannya'," kata ibu Habibi, Wati Susilawati (35) saat ditemui di kawasan Bintaro Sektor 1, Jakarta, Jumat (25/9).
Sejak saat itu, Habibi dan sang ibu berbagi tugas menjaga lapak siomay yang dulunya dirintis sang ayah selama tiga tahun. Habibi bersiap melayani pembeli sejak pagi hari.
Menjelang siang selepas waktu zuhur, sang ibu tiba untuk bergantian, lalu keduanya kembali saling mengisi giliran hingga waktu operasional gerobak berakhir sekitar pukul 21.00 WIB.
Wati menjelaskan, keterlibatan putranya murni didorong oleh kondisi suaminya yang telah setahun terbaring sakit.
Kepala keluarga yang dulu menjadi tumpuan ekonomi itu sebenarnya telah direkomendasikan menjalani tindakan operasi di salah satu rumah sakit di Bandung.
Meskipun fasilitas penanganan medis dijamin oleh BPJS Kesehatan, keterbatasan dana untuk ongkos akomodasi perjalanan serta biaya kebutuhan hidup selama di Bandung membuat pihak keluarga terpaksa mengurungkan niat tersebut.
"Orangnya sudah enggak kerja, enggak punya biaya. Ya sudah mendingan enggak dioperasi saja," ucapnya.
Kini, sang ayah hanya bisa beristirahat di rumah sembari menahan rasa sakit dengan bantuan obat-obatan pereda nyeri yang diperoleh secara mandiri dari apotek.
Kisah perjuangan keluarga kecil ini perlahan menyentuh simpati masyarakat luas, termasuk Gubernur Jawa Barat Kang Dedi Mulyadi (KDM).
Mengetahui situasi yang membelit keluarga perantau tersebut, KDM mendorong agar sang ayah tidak menunda operasi dan berjanji akan menopang kebutuhan keluarga selama masa penanganan medis berlangsung.
Selain masalah kesehatan sang ayah, perhatian khusus juga dialamatkan bagi masa depan pendidikan Habibi.
KDM meminta anak laki-laki tangguh itu untuk tidak mengubur impiannya dan segera melanjutkan sekolah.
Habibi pun menyambut ajakan tersebut dengan penuh antusias. Rencananya, ia akan didaftarkan ke sekolah dasar di kawasan Jakarta begitu dokumen buku rapor miliknya dari Cirebon selesai diurus.
"Katanya Habibi harus sekolah. Kata Habibi, 'Iya, saya mau sekolah lagi'," kata dia. (ant/dpi)