news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Ilustrasi kondisi sawah yang mulai kekeringandi daerah tetangga Kabupaten Gowa, Sulsel sebagai dampak dari El Nino..
Sumber :
  • Antara

Musim Hujan Mundur, BMKG Beri Peringatan: El Nino Diprediksi Bertahan Sampai Awal 2027

Ancaman bencana hidrometeorologi, khususnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla), diprediksi kian mengintai seiring berlangsungnya fenomena El Nino fase sangat kuat di tanah air. 
Kamis, 1 Oktober 2026 - 22:53 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com - Ancaman bencana hidrometeorologi, khususnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla), diprediksi kian mengintai seiring berlangsungnya fenomena El Nino fase sangat kuat di tanah air. 

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan bahwa fenomena ini membuat periode kemarau berlangsung lebih lama dengan tingkat kekeringan yang lebih parah dari biasanya.

Situasi tersebut menuntut kesiapsiagaan berkesinambungan dari seluruh pemangku kepentingan untuk meminimalkan dampak krisis air bersih serta potensi kebakaran lahan.

Direktur Layanan Iklim Terapan BMKG, Marjuki, memaparkan bahwa kendati fase puncak kemarau maupun El Nino sudah terlewati pada rentang Agustus hingga September, imbasnya tetap dirasakan kuat di berbagai pelosok daerah. 

Hal itu ia sampaikan dalam agenda konferensi pers Desk Koordinasi Penanggulangan Karhutla di Kemenko Polkam, Jakarta, Kamis (1/10).

Secara teknis, Marjuki menerangkan bahwa naiknya temperatur permukaan laut di kawasan Pasifik bagian tengah serta timur memicu pendinginan suhu perairan di kepulauan Indonesia. 

Efeknya, ketersediaan uap air menipis sehingga pembentukan awan hujan menjadi sangat terhambat.

"Sejak Maret pula kami memprediksi bahwa akibat dari aktifnya El Nino berbarengan dengan musim kemarau, maka musim kemarau kita secara umum itu akan menjadi lebih panjang dan menjadi lebih kering," ujar Marjuki.

Berdasarkan hasil analisis pemodelan cuaca milik BMKG, El Nino diperkirakan masih akan bertahan hingga awal tahun 2027 mendatang. 

Hal ini berimbas langsung pada mundurnya awal waktu kedatangan musim hujan di skala nasional dari jadwal semestinya.

Data BMKG menunjukkan, sebanyak 529 zona musim atau mencakup sekitar 61,08 persen total daratan Indonesia dipastikan mengalami penundaan kedatangan musim hujan. 

Adapun 26 zona musim lainnya tetap normal, dan hanya 11 zona musim yang awal musim hujannya tercatat datang lebih cepat.

Khusus untuk bulan Oktober, Marjuki mengungkapkan intensitas curah hujan di kawasan selatan garis khatulistiwa diprediksi masih berada pada taraf amat rendah dan gersang.

Titik terang perbaikan cuaca diproyeksikan baru mulai tampak pada November, ditandai dengan hadirnya curah hujan berintensitas sedang di kawasan selatan. 

Setelah itu, guyuran musim penghujan diperkirakan baru merata dan kembali ke pola normal pada Desember.

Guna mengantisipasi dampak lanjutan, BMKG berkomitmen memperketat pemantauan dinamika atmosfer sembari memperkuat koordinasi bersama kementerian dan lembaga terkait. 

Langkah terpadu ini ditujukan untuk memaksimalkan mitigasi kekeringan sekaligus memandu pelaksanaan operasi penanggulangan karhutla di daerah-daerah rawan bencana agar selaras dengan perkembangan iklim terkini. (ant/dpi)

 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

08:50
02:47
06:54
06:16
06:20
07:15

Viral