news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia..
Sumber :
  • Adinda Ratna Safira/tvOnenews

Bahlil Lahadalia Rangkap Jabatan, Akademisi Nilai Bisa Percepat Hilirisasi hingga Kemandirian Energi

Wahyudi mengatakan posisi Bahlil sebagai Menko sekaligus Menteri ESDM juga membuka peluang mengintegrasikan kebijakan pertambangan, energi, hilirisasi, dan investasi dari hulu hingga hilir. 
Minggu, 4 Oktober 2026 - 16:28 WIB
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com - Akademisi turut memberikan komentar soal Bahlil Lahadalia yang merangkap jabatan sebagai Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). 

Hal ini dinilai membuka peluang mempercepat transformasi kekayaan mineral Indonesia menjadi basis industri energi masa depan.

Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Muhammad Sri Wahyudi Suliswanto mengatakan menggabungkan hilirisasi dan transisi energi merupakan langkah strategis.

"Ini sangat strategis karena hilirisasi mineral membutuhkan energi dalam jumlah besar. Tantangannya adalah memastikan tambahan kapasitas industri tidak justru meningkatkan ketergantungan pada energi fosil," kata Wahyudi, dalam keterangannya, Minggu (4/10/2026).

Lebih lanjut, Wahyudi menjelaskan bahwa hilirisasi dan transisi energi perlu dirancang dalam satu ekosistem agar pertumbuhan industri diikuti penyediaan energi yang semakin efisien, andal, dan rendah karbon. 

“Integrasi tersebut semakin penting mengingat investasi hilirisasi pada Semester I 2026 telah mencapai Rp300,1 triliun atau sekitar 29,7 persen dari total investasi nasional. Kemudian perkembangan industri nikel menjadi salah satu modal penting dalam menjalankan agenda tersebut. Produksi nikel olahan Indonesia telah meningkat dari sekitar 22 ribu ton pada 2014 menjadi lebih dari 1,4 juta ton atau sekitar 41 persen produksi dunia pada 2023,” terangnya.

Wahyudi menuturkan, perkembangan tersebut menunjukkan perubahan signifikan posisi Indonesia dari pemasok bahan mentah menjadi salah satu pemain penting dalam rantai pasok global.

"Pekerjaan berikutnya adalah memastikan nilai tambah semakin banyak tinggal di dalam negeri melalui penguatan industri baterai, transfer teknologi, riset, dan keterlibatan perusahaan nasional," tegasnya.

Selain itu, hilirisasi juga mulai berkembang pada komoditas mineral lainnya. Wahyudi menilai pengembangan nikel, tembaga, emas, dan bauksit secara bersamaan dapat memperluas basis industrialisasi Indonesia. 

Nikel dapat menjadi basis pengembangan baterai dan kendaraan listrik, tembaga menopang industri elektronik dan kelistrikan, sedangkan bauksit dapat dikembangkan menuju aluminium dan berbagai produk manufaktur.

"Diversifikasi hilirisasi ini penting karena Indonesia tidak boleh hanya bergantung pada satu komoditas. Nikel, tembaga, bauksit, dan emas memiliki rantai nilai yang berbeda dan dapat menjadi fondasi industri manufaktur, elektronik, energi, hingga kendaraan listrik," ujar Wahyudi.

Berita Terkait

1
2 3 Selanjutnya

Topik Terkait

Saksikan Juga

08:50
02:47
06:54
06:16
06:20
07:15

Viral