news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Kristomei Sianturi.
Sumber :
  • Tangkapan Layar YouTube Tahu Bulat

Kristomei Sianturi Sempat Ingin Jadi Insinyur, Begini Titik Balik yang Mengubah Jalan Hidupnya

Kristomei Sianturi sempat bercita-cita menjadi insinyur. Simak titik balik yang mengubah jalan hidupnya hingga kini dilantik sebagai Kepala BNPB.
Kamis, 15 Oktober 2026 - 17:28 WIB
Reporter:
Editor :

tvOnenews.com - Kristomei Sianturi kini resmi menjabat sebagai Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) setelah dilantik Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (15/10/2026). Namun, siapa sangka, perjalanan kariernya justru berawal dari cita-cita menjadi seorang insinyur, bukan tentara.

Titik balik Kristomei Sianturi hingga akhirnya memilih dunia militer terjadi saat menempuh pendidikan di SMA Taruna Nusantara dan menjalani seleksi Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri), yang kini dikenal sebagai Akademi Militer (Akmil). Pengalaman selama pendidikan militer perlahan mengubah pandangannya terhadap pilihan hidup dan masa depan.

Kisah perjalanan Kristomei Sianturi tersebut memperlihatkan bagaimana cita-cita masa muda dapat berubah seiring pengalaman dan keputusan yang diambil. Dari keinginan kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB) hingga menjadi perwira TNI, ada sejumlah momen yang membentuk jalan hidupnya sampai dipercaya memimpin BNPB.


Kristomei Sianturi. (Sumber: Tangkapan Layar tvOne)

Kristomei Sianturi Awalnya Ingin Kuliah Teknik

Kristomei Sianturi mengungkapkan bahwa dirinya tidak tumbuh di lingkungan keluarga militer. Ayahnya berprofesi sebagai pedagang, sedangkan ibunya merupakan seorang guru SMA. Karena itu, dunia tentara bukanlah sesuatu yang akrab baginya sejak kecil.

Dalam tayangan YouTube Tahu Bulat, Kristomei menceritakan bahwa cita-citanya saat muda justru berkaitan dengan bidang teknik.

“Saya lahir dan besar di keluarga yang tidak ada sama sekali kaitannya dengan tentara. Tidak ada saudaranya tentara. Bapak, Ibu juga bukan seorang tentara. Bapak saya seorang pedagang. Ibu saya seorang guru SMA. Tidak ada sama sekali berkaitan dengan tentara dan cita-cita saya juga dulu bukan seorang tentara,” ujar Kristomei Sianturi.

Ia bahkan sudah memiliki rencana untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi dengan mengambil jurusan teknik penerbangan di ITB.

“Saya enggak ngerti pangkat, saya dulu ingin masuk sekolah teknik. Saya pengen ngambil ke ITB dulu. Saya ingin sekolah di SMAN 3 Bandung, kemudian masuk ke ITB dulu rencananya,” kata Kristomei.

Keinginannya menjadi insinyur juga terlihat ketika mengikuti wawancara masuk SMA Taruna Nusantara. Saat ditanya mengenai rencana setelah lulus SMA, ia dengan tegas menyampaikan keinginannya untuk kuliah di bidang teknik penerbangan.

“Bahkan ketika saya tes wawancara masuk SMA Taruna Nusantara, saya ditanya oleh seorang Laksamana bintang dua, Laksamana Muda Wahyo, SK, PhD, pada saat sebagai ketua tim tes wawancara. Saya ditanya, ‘Adik ini setelah lulus dari SMA akan meneruskan ke mana?’ Saya jawab, ‘Siap, Pak. Saya ingin kuliah.’ ‘Kuliah di mana?’ ‘Siap, saya ingin mengambil teknik penerbangan ITB.’ ‘Kenapa tidak masuk ke Akabri?’ ‘Siap, saya tidak suka ABRI.’ Nah, itu jawaban seorang Kristomei umur 15 tahun,” ungkapnya.

Kristomei menjelaskan bahwa ketidaktertarikannya terhadap militer saat itu muncul karena dirinya tidak memiliki pengetahuan mengenai kehidupan tentara.

“Saya tidak punya, tidak pernah punya lingkungan. ABRI itu kayak apa sih? Nggak tahu saya tentang itu. Pangkat aja nggak ngerti. Seorang lulusan SMP masuk ke SMA Taruna Nusantara saya hanya karena beasiswa gratis, nah saya gratisan. Dan saya merasa saya bisa bersaing, berkompetisi dengan semua siswa-siswa yang berasal dari Indonesia,” tuturnya.

Ia juga memiliki keinginan untuk membuktikan bahwa dirinya mampu bersaing dengan pelajar dari berbagai daerah.

“Saya ingin membuktikan bahwa saya dari kampung pun enggak kalah dengan anak-anak Jakarta,” katanya.

Lulus Teknik Mesin Undip, tetapi Memilih Jalan Militer

Meski memiliki cita-cita menjadi insinyur, Kristomei Sianturi akhirnya mulai mempertimbangkan pilihan lain selama menjalani pendidikan di SMA Taruna Nusantara. Lingkungan pendidikan tersebut memperkenalkannya pada kehidupan taruna dan membuka pandangan baru mengenai dunia militer.

Kristomei kemudian mengikuti seleksi Akabri sebagai alternatif. Pada saat yang sama, ia juga mengikuti seleksi perguruan tinggi negeri dan berhasil diterima di jurusan Teknik Mesin Universitas Diponegoro (Undip).

Situasi tersebut membuatnya berada di persimpangan pilihan. Di satu sisi, ia memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan di bidang teknik sesuai rencana awal. Di sisi lain, proses seleksi militer yang telah dijalaninya juga membawanya menuju kesempatan menjadi seorang taruna.

Pada akhirnya, Kristomei memilih melanjutkan pendidikan militer. Keputusan tersebut menjadi awal perjalanan panjangnya di lingkungan TNI, meskipun sebelumnya ia tidak pernah membayangkan akan menekuni profesi sebagai tentara.

Namun, perjalanan untuk beradaptasi dengan kehidupan militer ternyata tidak mudah. Kristomei yang sebelumnya berfokus pada kemampuan akademis harus menghadapi pendidikan fisik dan mental yang jauh berbeda dari kehidupan sipil.

“Jadi, dengan lulusan dari SMA Taruna yang sudah saya punya wawasan yang sangat luas, punya kemampuan dua bahasa zaman itu, bahasa Jepang, bahasa Inggris, itu tiba-tiba harus kok lari-lari ini enggak pernah belajar. Ini kan menurut saya zaman itu, ya, karena memang rupanya itu masih pendidikan dasar. Memang kita penguatan fisik dan mental dulu dan mengubah kehidupan sipil menjadi kehidupan militer,” jelasnya.

Ia juga mengenang beratnya menjalani tahap awal pendidikan militer yang mengharuskannya beradaptasi dengan berbagai latihan fisik.

“Itu tahapan awalnya memang semua serba mendongkolkan. Jalan jongkok, habis makan suruh lari, guling-guling lagi. Belum makan aja udah muntah-muntah kita kan gitu, ya,” ujarnya.

Kehilangan Senjata Saat Latihan Jadi Titik Balik Kristomei Sianturi

Salah satu pengalaman yang paling membekas bagi Kristomei terjadi ketika ia menjalani latihan malam atau caraka malam sekitar satu setengah bulan setelah memulai pendidikan militer.

Dalam latihan tersebut, para taruna harus membawa pesan dari satu titik ke titik lain dengan berjalan sejauh sekitar lima kilometer pada malam hari. Sepanjang perjalanan, mereka akan menghadapi berbagai rintangan di sejumlah pos.

Saat menjalani latihan, Kristomei terjatuh ke sebuah jurang kecil hingga kehilangan senjatanya. Situasi tersebut membuatnya khawatir karena kehilangan senjata dapat berakibat fatal bagi kelanjutan pendidikannya sebagai taruna.

“Ada macam-macamlah ini hantu, ada hantu-hantuan, ada segala macam gitu, ya. Nah, saya jatuh terjatuh ke kayak jurang kecil gitu, ya. Senjata saya hilang. Jadi, pas itu di dekat kampung itu saya jatuh, saya cari senjata saya enggak ketemu. Saya terduduklah karena kalau senjata hilang kita pasti dikeluarkan. Karena dianggap bahwa taruna ini tidak bisa menjaga senjatanya, itu bisa dikeluarkan,” kenangnya.

Dalam kondisi tersebut, Kristomei mengaku berdoa agar senjatanya segera ditemukan. Ia bahkan berjanji akan menjalani pendidikan dengan lebih sungguh-sungguh jika berhasil menemukan senjata tersebut.

“Di situlah saya berjanji, ya Tuhan, jika senjata ini ketemu, saya berniat akan jadi taruna yang baik dan saya akan berikan dengan baik serta bertulisan baik. Itu doa saya waktu itu. Enggak lama saya selesai itu duduk, ada orang kampung datang bawa obor. Enggak tahu dari mana tuh,” tuturnya.

Tidak lama kemudian, seseorang dari kampung sekitar datang membawa obor dan membantunya menemukan senjata yang hilang.

“Saat ditanya kenapa oleh orang kampung, Kristomei langsung menjawab, ‘Pak, senjata saya jatuh, Pak. Dibantu cari.’ Ketemu. Nah, enggak lama ketemu. Nah, dia bawa obor kan. Nah, ketemulah senjata itu. Ya sudah, saya langsung saya tinggal, enggak perlu nanya nama lagi. Makasih, Pak. Saya lari. Itu saya orang terakhir yang masuk ke finis,” katanya.

Meski berhasil menyelesaikan latihan, Kristomei tidak mendapatkan hasil seperti yang diharapkan. Ia yang semula berharap masuk dalam kelompok sepuluh besar justru menjadi peserta terakhir yang mencapai garis finis. Akibatnya, ia harus menjalani hukuman dengan direndam di sungai pada malam hari.

“Nah, jadi harapannya tadinya kita masuk 10 besar dari Patih itu karena saya memang akademik saya tinggi, diharapkan dengan uji lapangan itu juga nilainya tinggi. Ternyata saya masuk orang paling belakang. Akhirnya kita direndamlah di sungai malam-malam itu,” ujarnya.

Pengalaman kehilangan senjata, berusaha menemukannya, hingga menerima konsekuensi dari hasil latihan menjadi momen penting dalam perjalanan hidupnya. Kristomei mulai menerima bahwa dunia militer yang dipilihnya membutuhkan ketekunan, disiplin, dan kesediaan menghadapi tantangan.

“Nah, jadi mau jadi terbaik malah direndam. Nah, gitu. Tapi sejak itu saya memang termotivasi, oke, ini sudah jalan hidup saya, saya kerjakan dengan baik. Jangan nanggung, gitu. Kerjakan segala sesuatunya dengan baik. Capek pun tetap harus kau kerjakan, tapi harus lebih berhasil,” ungkapnya.

Bertekad Berprestasi Setelah Menemukan Jalan Hidup

Sejak pengalaman tersebut, Kristomei Sianturi mengaku semakin termotivasi untuk menjalani pendidikan militer dengan sungguh-sungguh. Ia mulai memandang pilihannya sebagai jalan hidup yang harus dijalani secara maksimal, bukan sekadar sesuatu yang perlu diselesaikan.

Bagi Kristomei, rasa lelah dan kesulitan merupakan bagian dari proses yang harus dihadapi. Jika tenaga dan waktu sudah dicurahkan untuk sebuah pekerjaan, ia ingin memastikan hasil yang diperoleh juga sepadan dengan usaha tersebut.

“Kalaupun saya malas-malasan tetap harus saya kerjakan, ya. Kenapa tidak saya harus berprestasi sekalian, gitu loh. Jadi, capeknya sama, tapi harus berprestasi, gitu loh. Jadi, jangan nanggung-nanggung,” katanya.

Prinsip tersebut menjadi salah satu pelajaran yang ia petik dari pengalaman awalnya sebagai taruna. Keputusan yang semula diambil di tengah persimpangan antara dunia teknik dan militer akhirnya mengantarkannya meniti karier di lingkungan TNI.

Kini, setelah melalui berbagai penugasan, Kristomei Sianturi memasuki babak baru dalam perjalanan kariernya. Presiden Prabowo Subianto resmi melantiknya sebagai Kepala BNPB di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (15/10/2026), menggantikan Letjen TNI Suharyanto.

Pengangkatan tersebut tertuang dalam Keputusan Presiden Nomor 113/P Tahun 2026 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Kepala BNPB. Dalam prosesi pelantikan, Kristomei bersama pejabat lainnya mengucapkan sumpah jabatan di hadapan Presiden Prabowo Subianto, kemudian menandatangani berita acara pelantikan secara simbolis.

Jabatan baru ini menambah babak penting dalam perjalanan Kristomei Sianturi. Sosok yang semasa muda bercita-cita menjadi insinyur itu kini dipercaya memimpin lembaga pemerintah yang berperan dalam penanggulangan bencana di Indonesia. Kisahnya menunjukkan bagaimana sebuah keputusan dan pengalaman yang tidak terduga dapat mengubah arah kehidupan seseorang.

(anf)

 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

08:50
02:47
06:54
06:16
06:20
07:15

Viral