- Antara
Asap Karhutla Bisa Picu Gangguan Kesehatan, Kemenkes Ingatkan 4 Kelompok yang Paling Rentan
tvOnenews.com - Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan sekadar mengganggu jarak pandang atau membuat udara terasa pengap. Partikel dan polutan yang terbawa asap dapat masuk ke saluran pernapasan, memicu iritasi, hingga memperburuk kondisi kesehatan yang sudah dialami seseorang.
Risiko ini menjadi perhatian khusus ketika kebakaran berlangsung di wilayah yang berdekatan dengan permukiman.
Bahaya paparan asap juga tidak selalu langsung terasa. Sebagian orang mungkin hanya mengalami mata perih atau tenggorokan tidak nyaman, sedangkan kelompok tertentu dapat menghadapi risiko lebih besar, terutama jika paparan berlangsung berulang atau kualitas udara terus memburuk.
Karena itu, mengurangi aktivitas di luar ruangan dan memperhatikan kondisi tubuh menjadi langkah penting selama karhutla terjadi.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengingatkan masyarakat di wilayah terdampak agar tidak mengabaikan risiko tersebut.
Pemerintah menekankan perlunya perlindungan ekstra bagi anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit pernapasan. Kewaspadaan diperlukan agar dampak kesehatan akibat asap dapat ditekan, terutama ketika kondisi udara sudah masuk kategori tidak sehat.
Paparan Asap Karhutla Tak Hanya Mengancam Saluran Pernapasan
Juru Bicara Kemenkes, Widyawati, menjelaskan bahwa dampak asap karhutla dapat memengaruhi berbagai bagian tubuh. Gangguan yang muncul tidak terbatas pada sistem pernapasan, tetapi juga dapat mengenai mata dan kulit serta memperburuk penyakit kronis.
"Asap karhutla tidak hanya berdampak pada saluran pernapasan, tetapi juga menyebabkan iritasi mata dan kulit serta memperburuk penyakit kronis," kata Widyawati, melansir dari ANTARA, Sabtu (17/10/2026).
Paparan asap dapat membuat masyarakat mengalami keluhan seperti batuk, tenggorokan terasa gatal, sesak napas, atau iritasi pada mata. Tingkat gangguan yang dialami setiap orang dapat berbeda, bergantung pada kondisi kesehatan, konsentrasi polutan di udara, serta lamanya seseorang terpapar.
Partikel halus yang terkandung dalam asap menjadi salah satu hal yang perlu diwaspadai karena dapat masuk ke saluran pernapasan. Pada orang yang memiliki asma atau penyakit paru lainnya, kondisi udara yang tercemar berpotensi memicu kekambuhan atau memperburuk gejala.
Risiko tersebut membuat kualitas udara perlu menjadi pertimbangan dalam menentukan aktivitas harian. Ketika udara memburuk akibat kebakaran, masyarakat sebaiknya tidak hanya mengandalkan apakah asap terlihat pekat atau tercium menyengat. Informasi kualitas udara dan munculnya keluhan fisik juga penting diperhatikan.