- tvOneNews
Istri Sah Dwi Bagus Martono Tak Tahu Suami Mutilasi Istri Siri dan Anak di Madiun, Akui sedang Ngajar di Sekolah
Madiun, tvOnenews.com - Martha Amalia Iflahah (34), istri sah Dwi Bagus Martono (40), tersangka kasus pembunuhan terhadap istri siri, Dini Hardiyanti (30), dan anak berusia empat tahun di Madiun, Jawa Timur, akhirnya buka suara setelah hampir sepekan menutup diri dari publik.
Martha muncul dengan didampingi tim kuasa hukumnya untuk memberikan pernyataan sekaligus mengklarifikasi berbagai informasi yang beredar di media sosial. Sebelumnya, ia sempat dituding turut membantu suaminya dalam pembunuhan terhadap istri siri dan anak tersebut.
Martha menegaskan bahwa dirinya sama sekali tidak mengetahui tindakan keji yang dilakukan Dwi Bagus Martono. Ia pun menceritakan awal mula mengetahui peristiwa ketika suaminya membunuh, memutilasi, hingga membakar jasad istri siri dan anaknya di belakang rumah mereka, tepatnya di Jalan Kunir, Kelurahan Ngegong, Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun.
"Saya itu baru mengetahui ketika Mas Bagus tertangkap, yang berarti di tanggal 25 (Oktober 2026). Itu juga saya tidak mengerti dan saya tidak dijelaskan secara detail terkait apa yang dia lakukan," ujar Martha dalam konferensi pers di salah satu hotel di Kota Madiun, Senin (2/11/2026) siang.
Lebih lanjut, Martha mengaku mendapatkan bantuan dari Arief selaku kuasa hukumnya serta sang adik untuk mengikuti perkembangan informasi dan pemberitaan terkait kasus pembunuhan tersebut. Hingga saat ini, ia masih sulit membayangkan suaminya terlibat dalam peristiwa sadis tersebut.
Gelagat Dwi Bagus Martono setelah Habisi Istri Siri dan Anak
- Syamsul Huda-tvOnenews.com
Martha turut mengungkapkan bagaimana interaksinya dengan sang suami setelah peristiwa pembunuhan tersebut terjadi. Menurutnya, Bagus tetap memperlihatkan sikap seperti biasanya sehingga tidak ada perilaku mencurigakan yang ia rasakan.
Namun, setelah mengetahui perbuatan keji suaminya, Martha mengaku sangat terkejut dan terpukul. Ia hanya bisa meluapkan kesedihan, kemarahan, hingga kekecewaan setelah mengetahui suaminya menghilangkan jasad Dini dan anaknya.
"Saya dan suami berinteraksi normal seperti layaknya suami-istri. Waktu itu tidak ada yang berubah dari gerak-gerik dan juga perilaku suami saya. Saya tidak merasa ada kecurigaan sama sekali. Ketika tahu, saya sangat terpukul saat faktanya mengatakan suami saya melakukan hal tersebut," terangnya.
Ia juga mengaku sakit hati karena dituduh terlibat dalam aksi pembunuhan tersebut. Bahkan, Martha merasa dikhianati setelah mengetahui bahwa suaminya ternyata memiliki istri siri tanpa sepengetahuannya.
"Untuk menerima fakta saja, saya dikhianati, saya selama ini ternyata saya tidak mengetahui apa pun," tegasnya.
Istri Sah Sedang Bekerja
Martha menduga pembakaran dan penggilingan jasad Dini beserta anaknya berlangsung pada siang hari. Saat peristiwa tersebut terjadi, ia mengaku tidak berada di rumah.
Perempuan berusia 34 tahun itu menjelaskan bahwa dirinya tengah menjalankan tugas sebagai seorang guru di sekolah. Martha bahkan menegaskan tidak mengetahui aktivitas apa pun yang dilakukan suaminya di bagian belakang rumah mereka.
"Jadi, pada saat peristiwa itu terjadi dan dilakukan, karena saya seorang guru, saya itu full sedang mengajar di sekolah. Artinya, saya sedang bekerja, saya benar-benar tidak mengetahui peristiwa itu terjadi, saya benar-benar tidak mengetahui apa yang suami saya lakukan," jelasnya.
Ia kemudian menerangkan bahwa kegiatan mengajarnya berlangsung sejak pagi hingga sore hari. Martha menyebut dirinya harus sudah tiba di sekolah sebelum pukul 07.00 WIB untuk melakukan absensi, sedangkan jam kerjanya baru selesai sekitar pukul 15.30 WIB.
"Kalau itu semua dilakukan oleh suami saya, tepatnya di rumah kami di halaman belakang itu, saya benar-benar tidak mengetahui peristiwa itu terjadi dan apa yang suami saya lakukan," katanya.
Martha mengaku tidak mengetahui secara pasti waktu maupun kronologi tindakan yang diduga dilakukan Dwi Bagus terhadap kedua korban. Informasi yang diterimanya hanya menyebutkan bahwa kejadian tersebut berlangsung ketika dirinya sedang bekerja.
"Dari informasi yang kami ketahui, itu disampaikan pada saat saya bekerja. Artinya, itu pada saat siang hari ketika saya berada di sekolah, begitu," imbuhnya.
Martha juga menjelaskan bahwa selama ini rumah yang menjadi lokasi dugaan pembakaran jasad korban memang ditempati bersama Bagus. Selain bekerja sebagai tenaga pengajar, ia turut mengelola usaha bimbingan belajar yang beroperasi di rumah tersebut.
Sebelumnya, kasus pembunuhan terhadap Dini Hardiyanti dan anaknya, AGEF (4), menggemparkan publik, khususnya masyarakat Kota Madiun. Perempuan asal Bogor tersebut diduga menjadi korban pembunuhan yang dilakukan Dwi Bagus Martono, suami sirinya.
Berdasarkan hasil penyelidikan, peristiwa tersebut diduga terjadi pada 20 September 2026. Dini disebut dicekik di sebuah hotel di Kota Madiun, sedangkan anaknya diduga dibunuh di dalam mobil.
Setelah melakukan aksinya, Dwi Bagus diduga berupaya menghilangkan barang bukti dengan membakar jasad kedua korban. Bahkan, jasad tersebut diduga dihancurkan menggunakan mesin penggiling daging atau pencacah rumput.
Kasus ini mulai terungkap setelah pihak keluarga melaporkan hilangnya Dini dan AGEF ke Polres Madiun Kota pada 5 Oktober 2026. Penyelidikan kepolisian kemudian mengarah kepada Dwi Bagus.
Setelah mengumpulkan sejumlah petunjuk, polisi akhirnya menangkap tersangka di rumah temannya di Kecamatan Gudo, Kabupaten Jombang. Terakhir, Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Jawa Timur telah memanggil 16 saksi untuk mengungkap kasus tersebut.
(hap)