- Antara
Muncul Daratan Baru di Perairan Maluku Pasca Gempa, PVMBG Minta Warga Tidak Jadikan Tempat Tinggal
Jakarta, tvOnenews.com - Munculnya daratan baru yang mendadak di perairan Desa Yamru, Kota Tual, Maluku, belakangan ini memicu perhatian publik.
Fenomena tersebut terekam dalam video viral yang menunjukkan sebuah gundukan material menyerupai pulau kecil sepanjang 60 meter dan lebar 30 meter muncul dari permukaan laut pada Senin (2/11) dini hari.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memastikan bahwa kemunculan daratan tersebut bukanlah pulau baru dalam arti sesungguhnya, melainkan fenomena mud volcano atau gunung lumpur.
Ketua Tim Geologi Gempa Bumi dan Tsunami PVMBG, Imam Catur Priambodo, menjelaskan bahwa daratan tersebut terbentuk akibat material lumpur, gas, dan air di bawah permukaan laut yang terdorong naik ke atas.
"Mud volcano bukan berarti gunung api, tapi material mud atau lumpur yang muncul membentuk gundukan," jelas Imam saat ditemui di Mataram, Selasa (3/11).
Dipicu Aktivitas Gempa
Munculnya gundukan ini terjadi empat hari setelah gempa berkekuatan 6,2 magnitudo mengguncang Laut Banda pada 29 Oktober 2026.
Menurut Imam, aktivitas seismik tersebut telah mengganggu keseimbangan hidrostatik di bawah permukaan bumi, sehingga material lumpur yang mengandung gas tertekan dan naik ke permukaan.
Di wilayah dengan kondisi geologi seperti perairan Maluku, fenomena ini sebenarnya merupakan hal yang lumrah.
Kejadian serupa pun pernah tercatat di Desa Teinaman, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, pada Januari 2023, pascagempa 7 magnitudo.
Peringatan Penting bagi Warga
Meskipun fenomena ini tampak unik, PVMBG mengeluarkan peringatan keras bagi masyarakat setempat.
Daratan baru tersebut tidak stabil dan berisiko tinggi jika digunakan sebagai lahan aktivitas permanen.
"Kalau didekati mungkin tidak ada masalah, tapi yang harus diperhatikan karena pulau karang itu kondisinya tidak stabil, jadi jangan dijadikan tempat tinggal atau jangan jadi lahan baru," tegas Imam.
PVMBG menegaskan bahwa gundukan ini bukanlah pulau tektonik permanen, melainkan manifestasi sementara dari deformasi dasar laut.
Material yang membentuk gundukan tersebut terdiri dari campuran lumpur, batu, dan sedimen pasir yang tidak cukup kuat untuk menahan beban bangunan berat.
Masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan tidak melakukan aktivitas di area tersebut guna menghindari risiko yang tidak diinginkan. (ant/dpi)