news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Dubes 11 Negara Perkuat Kemitraan dengan Indonesia, Apa Peluang bagi Pendidikan, Perdagangan dan Investasi?.
Sumber :
  • ANTARA/HO-BPMI Setpres/pri.

Dubes 11 Negara Perkuat Kemitraan dengan Indonesia, Apa Peluang bagi Pendidikan, Perdagangan dan Investasi?

Sejumlah dubes negara sahabat siap memperkuat kemitraan strategis dengan Indonesia. Kerja sama perdagangan, investasi, pendidikan, dan budaya berpeluang
Sabtu, 7 November 2026 - 02:00 WIB
Reporter:
Editor :

tvOnenews.com - Kemitraan strategis Indonesia dengan berbagai negara kembali menjadi sorotan setelah sejumlah duta besar negara sahabat menyampaikan komitmen untuk memperluas hubungan bilateral. 

Kerja sama ini tidak hanya menyangkut hubungan diplomatik, tetapi juga berpotensi memengaruhi perdagangan, investasi, pendidikan, hingga peluang ekonomi yang dapat dirasakan masyarakat.

Di tengah persaingan ekonomi dan perubahan geopolitik dunia, hubungan antarnegara memiliki arti lebih luas daripada sekadar menjaga komunikasi politik. 

Indonesia membutuhkan mitra untuk memperluas pasar ekspor, menarik investasi, mengembangkan teknologi, serta memperkuat kapasitas sumber daya manusia. 

Sebaliknya, posisi Indonesia sebagai negara dengan pasar besar dan sumber daya melimpah membuatnya menjadi mitra yang diperhitungkan oleh berbagai negara.

Komitmen tersebut mengemuka ketika Presiden Prabowo Subianto menerima surat kepercayaan atau letters of credence dari 11 duta besar negara sahabat di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (6/11/2026). 

Sejumlah perwakilan negara yang hadir menyampaikan keinginan untuk meningkatkan kerja sama dengan Indonesia melalui berbagai sektor.

IEU-CEPA dan Peluang Memperluas Pasar Perdagangan

Salah satu hubungan yang mendapat perhatian adalah kemitraan Indonesia dengan Uni Eropa. Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) Designate Resident Uni Eropa untuk Indonesia, Hervé Delphini, menilai hubungan kedua pihak tengah memasuki momentum penting yang dapat membuka babak baru kerja sama.

Ia menyoroti situasi dunia yang diwarnai ketidakpastian geopolitik dan gejolak geoekonomi. Dalam kondisi tersebut, hubungan Indonesia dan Uni Eropa dinilai tidak hanya menguntungkan masyarakat serta pelaku bisnis, tetapi juga berkontribusi terhadap stabilitas dan kerja sama global.

"Saya ingin menyampaikan bahwa di tengah dunia yang penuh dengan ketidakpastian geopolitik dan gejolak geoekonomi, hubungan yang kuat antara Uni Eropa dan Indonesia tidak hanya bermanfaat bagi masyarakat dan dunia bisnis, tetapi juga memberikan kontribusi bagi dunia," katanya.

Salah satu instrumen penting untuk memperkuat hubungan tersebut adalah Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA). 

Perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif ini dirancang untuk memperluas akses pasar, meningkatkan perdagangan dan investasi, serta memperkuat hubungan ekonomi kedua pihak.

Menurut data Komisi Eropa, nilai perdagangan barang antara Uni Eropa dan Indonesia mencapai 28,9 miliar euro sepanjang 2025. 

Uni Eropa juga menjadi mitra dagang terbesar keempat bagi Indonesia. Sementara itu, nilai investasi langsung Uni Eropa yang telah tertanam di Indonesia tercatat mencapai 24,7 miliar euro pada 2024.

Angka tersebut memperlihatkan besarnya hubungan ekonomi yang sudah terbangun. Jika IEU-CEPA dapat ditandatangani, diratifikasi, dan diterapkan sesuai rencana, pelaku usaha Indonesia berpeluang memperoleh akses pasar yang lebih luas. 

Produk manufaktur, pertanian, alas kaki, tekstil, hingga komoditas olahan dapat memiliki kesempatan lebih besar untuk bersaing di pasar Eropa.

Optimisme serupa disampaikan Duta Besar Austria, Alexander Rieger. Ia berharap implementasi IEU-CEPA dapat memperluas hubungan ekonomi sekaligus mempererat kerja sama kebudayaan dan hubungan antarmasyarakat.

"Kami optimistis hal ini akan memberikan dorongan kuat untuk makin mendekatkan negara-negara kami di sektor bisnis," katanya.

Pada 5 November 2026, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut pemerintah menargetkan penandatanganan IEU-CEPA pada 21 November 2026. Perjanjian tersebut diharapkan mulai berlaku pada awal 2027 setelah melalui proses yang diperlukan.

Investasi, Teknologi, dan Hubungan Antarmasyarakat

Di luar Uni Eropa, Swiss juga melihat Indonesia sebagai mitra penting. Duta Besar Swiss Konstantin Obolensky menyoroti hubungan kedua negara yang telah terjalin selama 75 tahun, terutama dalam perdagangan, investasi, dan pembangunan ekonomi.

Kerja sama dengan Swiss berpotensi memperkuat sektor industri, teknologi, dan pengembangan kapasitas. Data Kedutaan Besar Swiss menunjukkan perdagangan kedua negara mencapai 5,2 miliar franc Swiss pada 2025. Sekitar 150 perusahaan Swiss juga telah beroperasi di Indonesia.

Sementara itu, Jepang menegaskan komitmen untuk memperdalam kemitraan strategis komprehensif dengan Indonesia. 

Duta Besar Jepang Ueno Atsushi menyebut hubungan kedua negara telah berkembang sejak pembukaan hubungan diplomatik pada 1958. Kerja sama Indonesia-Jepang selama ini mencakup perdagangan, investasi, infrastruktur, industri, dan pengembangan sumber daya manusia.

Dari kawasan Asia Tenggara, Malaysia juga menekankan pentingnya hubungan yang dibangun atas kedekatan geografis, sejarah, sosial, dan budaya. Duta Besar Malaysia Dato’ Muzafar Shah Mustafa berharap fondasi persahabatan kedua negara dapat terus diperkuat.

"Secara historis, kita memiliki keterkaitan sosial dan budaya. Yang terpenting adalah persahabatan yang langgeng di antara masyarakat kita. Oleh karena itu, selama masa jabatan saya, saya ingin melanjutkan fondasi hubungan baik yang telah dibangun oleh para pemimpin kita, guna memperkuat hubungan kita di berbagai aspek," ucapnya.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Arrmanatha Nasir menyampaikan bahwa 11 duta besar negara sahabat dijadwalkan menyerahkan surat kepercayaan kepada Presiden Prabowo. Beberapa di antaranya berasal dari Austria, Belgia, Jepang, dan Malaysia.

Penguatan hubungan diplomatik baru akan memberikan dampak nyata apabila diterjemahkan menjadi program dan kesepakatan yang berjalan. 

Bagi Indonesia, peluangnya mencakup peningkatan ekspor, masuknya investasi berkualitas, alih teknologi, penciptaan lapangan kerja, serta pertukaran pengetahuan. 

Karena itu, inti dari kemitraan strategis bukanlah banyaknya negara yang menyatakan komitmen, melainkan kemampuan Indonesia mengubah kepercayaan tersebut menjadi manfaat ekonomi dan sosial yang terukur bagi masyarakat. (udn)

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

08:07
08:21
14:13
09:50
04:54
08:02

Viral