- IG @pierresangpatriot
Kapten Pierre Tendean, Kisah dari Garis Depan Berbahaya Operasi Dwikora Hingga Gugur Dibunuh PKI di Sumur Tua Lubang Buaya
Kebetulan Maria merupakan kawan baik dari mertua Jenderal Nasution, yang tinggal bersama-sama dengan menantunya itu di jalan Teuku Umar 40 Jakarta, sehingga ada hubungan baik antara keluarga Jenderal Nasution dengan keluarga Dr.Tendean.
"Karena itu lbu Tendean memberanikan diri memajukan permohonan kepada Jenderal A.H. Nasution yang ketika itu menjabat Menko Hankam KASAB, agar puteranya, Letda Pierre Tendean ditarik dari tugas khusus yang sangat berbahaya itu" tulis Masykuri.
Foto: Kapten Pierre Tendean dan Keluarga (Sumber: @vz_pierre)
Permohonan serupa juga diajukan kepada Mayor Jenderal Dendi Kadarsan yang ketika itu menjabat Direktur Zeni Angkatan Darat yang telah dikenal Ibu Tendean sejak puteranya menjadi Taruna ATEKAD di Bandung.
Pierre Tendean, kemudian akhirnya ditarik pulang berkat permintaan ibunya itu dan ditempatkan dalam tugas baru, sebagai Ajudan Menhan Pangab, Jenderal Nasution.
Tapi ajal manusia siapa yang dapat menebak, Kapten Pierre Tendean gugur, justru disaat ia berada ditempat yang dekat dengan ibunya.
Gugur Dalam Sumur Tua Sempit di Lubang Buaya
Minggu 3 Oktober 1965 pagi, pusat operasi G30S PKI di kawasan Lubang Buaya akhirnya takluk dibawah serbuan RPKAD dan pasukan gabungan dari Kostrad.
Dari kejauhan, bayang-bayang baret merah pasukan Resimen Pasukan Komando Angkatan Darat (RPKAD) pimpinan Mayor CI Santoso itu terlihat semakin mendekat.
Melihat itu, pasukan-pasukan bersenjata dari pemuda rakyat dan gerwani dalam jumlah besar itu hilang nyalinya, meski jumlah mereka banyak, jelas bukan tandingan pasukan khusus sekelas RPKAD. Sontak para pasukan pendukung G30S PKI itu kabur meninggalkan kawasan Lubang Buaya.
Foto: Kapten Anumerta Piere Tendean bersama dengan kedua kakak
perempuannya Mitzi Farre (duduk) dan Rooswidiati (Masykuri, "Pierre Tendean" - 1983/1984)
Pasukan RPKAD yang berada dibawah komando Mayjen Soeharto dan Jenderal Nasution itu kemudian melakukan penyisiran. Hasilnya sekira pukul 17.15 sore, mereka menemukan sebuah lubang mencurigakan, dengan kedalaman sekitar 12 meter dan berdiameter 0,75 meter.
Lubang yang merupakan sumur tua itu ditimbun dengan sampah-sampah kering, batang-batang pohon pisang, daun singkong dan tanah secara berselang-seling.