- tim tvone - tim tvone
Feminine Mystique, Upaya Bongkar Mitos Kebahagiaan Rumah Tangga
Sebagian perempuan dalam kehidupan rumah-tangga memang menemukan kedamaian, namun pada kenyataan yang disebutkan di atas ada beberapa perempuan yang merasakan perasaan gelisah, hampa dan kehilangan jati diri. Fenomena ini bukanlah hal baru. Betty Friedan sejak tahun 1963 sudah menyampaikan tentang “the problem that has no name”. Sebuah masalah tanpa nama yang dialami banyak perempuan di balik rumah tangga yang tampak bahagia namun ada perasaan kosong.
Dalam konsepnya, Feminine Mystique, Betty Friedan menyebut, perempuan diajarkan untuk percaya bahwa dirinya akan benar-benar bahagia bila sepenuhnya larut dalam peran domestik, menjadi istri yang penurut, ibu yang selalu tersenyum, dan penjaga rumah tangga yang tidak pernah letih. Perempuan akan dianggap sempurna dan mempunyai kebanggaan tersendiri jika bisa melakukan semua itu. Perempuan ideal dan sempurna selalu dikaitkan dengan bagaimana keberhasilannya dalam mengurus rumah. Ia juga harus sabar, lembut, serta mampu melayani suami dan merawat anak. Intinya, selalu mengutamakan keluarga di atas segalanya.
Menariknya, media menjadi salah satu agen yang ikut melanggengkan nilai perempuan ideal. Melalui iklan, mulai produk makanan, perlengkapan rumah tangga sampai tayangan film, sinetron, kajian agama, ikut memperkuat nilai bahwa perempuan yang baik adalah yang sepenuhnya bahagia di dalam rumah. Hal ini secara tidak langsung menggiring perempuan untuk percaya bahwa dirinya akan menemukan kebahagiaan melalui peran domestik. Di sisi lain, perempuan mempunyai impian dan pengembangan diri sebagai manusia dan individu yang tidak selalu ada di ruang domestik. Dari sinilah tekanan itu muncul, perempuan seolah wajib terlihat bahagia meski kenyataannya tidak demikian.
Betty Friedan mengkritik mitos perempuan di ranah domestik ini dengan keras. Menurutnya, masyarakat sudah menciptakan gambaran perempuan ideal atau “ibu sempurna” dengan menyebut bahwa kemuliaan seorang perempuan secara alami adalah merawat rumah. Jika perempuan tidak bahagia dalam menjalankan peran itu maka dianggap melawan kodrat! Pada kasus Indonesia, hal itu masih sangat relevan. Sampai saat ini banyak perempuan yang merasa tidak pantas untuk mengejar karir. Masih takut dicap egois jika membutuhkan bantuan dalam kaitannya dengan peran domestik. Merasa bersalah jika meninggalkan keluarga untuk me time. Banyak perempuan dipaksa untuk ikhlas bahwa rumah tangga adalah ladang untuk ibadah.