- Istimewa
Satu Anak Satu Bola
Punya bola, dan sibuk bermain sepak bola tertanam nilai berkompetisi secara sportivitas. Si anak pun jauh dari pengaruh buruk tatanan sosial dan perubahan zaman, yang saat ini seram dan mengancam.
“Awalnya banyak teman-teman tertawa. Justru itu yang membuat saya terpicu, ingin membuktikan bahwa saya bisa,” kata Edisyah, yang menganggap sepak bola sudah belahan hidupnya.
Edisyah mengakui, walau banyak yang tertawa, program ‘Satu Anak Satu Bola’ bisa berjalan berkat bantuan kerabatnya juga. “Uang untuk beli bola, sumbangan dari teman-teman juga,” ujar Edisyah.
Melalui berita olahraga di televisi, aku melihat bagaimana gembiranya anak-anak ketika mendapatkan bola dari Edisyah. Dari moment itu saya meyakini program ‘Satu Anak Satu Bola’ sangat bermanfaat, tak ada mudaratnya.
Syukurlah program itu terus menggeliat. Sekarang sudah berkerjasama dengan Partai Amanat Nasional, di bawah bendera MaPAN FC.
Penanganan semakin serius. Sudah pasti ‘Satu Anak, Satu Bola’, semakin eksis dan luas jangkaunya. Targetnya akan membagi 5 juta bola. Wooww kerennn..
Bisa jadi bila pada perkembangannya, bukan cuma bola. Juga peralatan sepak bola lainnya, seperti jersey berlatih dan sepatu bola.
Dan akan lebih sensaional lagi bila MaPAN FC bisa menyediakan fasilitas lapangan sepak bola. Adalah fakta selain kurang, lapangan sepak bola untuk anak-anak tidak memadai.
Alhasil, suatu ketika nanti, bila prestasi tim nasional sepak bola menembus pentas asia dan dunia, itu karena ada sumbangsih program ‘Satu Anak Satu Bola’ MaPAN FC.
Itu memang harapan. Yang pasti Edisyah dengan MaPAN FC sudah melakukan azas kemanfatan. Itu tidak perlu balasan dan penghargaan, cukup pengakuan.. Tabiikkkk!!!!
– RDU, saat Cibubur mulai gelap…