- FC Copenhagen
Kevin Diks Tak Habis Pikir, Bintang Timnas Indonesia itu Syok Lihat Mantan Klubnya Hancur Lebur: Jelas Bencana
tvOnenews.com - Timnas Indonesia kembali mendapat sorotan, kali ini lewat salah satu pemainnya, Kevin Diks, yang dibuat tak habis pikir melihat kondisi mantan klubnya, FC Copenhagen.
Kabar mengejutkan datang dari sepak bola Denmark, di mana FC Copenhagen mengalami penurunan performa drastis yang bahkan disebut sebagai “bencana yang belum pernah terjadi sebelumnya” oleh media Belanda, VoetbalPrimeur.
Sebagai mantan pemain yang pernah membela klub tersebut selama empat tahun, Kevin Diks mengaku sangat terkejut dengan situasi yang terjadi saat ini.
- Borussia Monchengladbach
Ia bahkan masih rutin mengikuti perkembangan Copenhagen meski kini telah berkarier bersama Borussia Mönchengladbach.
"Saya masih menonton hampir setiap pertandingan. Saya tidak menyangka ini akan terjadi ketika saya pergi beberapa bulan yang lalu," kata Diks, dalam laporan Voetbalprimeur.
Padahal, musim lalu FC Copenhagen tampil sangat dominan. Mereka sukses meraih gelar liga dan masih bersaing di kompetisi Eropa. Namun kini, situasinya berbalik drastis.
Klub raksasa Denmark itu hanya mampu finis di posisi ketujuh pada fase reguler liga, hasil yang memaksa mereka harus menjalani babak play-off degradasi.
- Instagram/Kevin Diks
Ini menjadi pertama kalinya Copenhagen gagal menembus enam besar sejak format kompetisi saat ini diterapkan.
Tak hanya itu, terakhir kali mereka finis di luar empat besar terjadi lebih dari 20 tahun lalu, tepatnya pada tahun 2000.
Fakta ini semakin mempertegas betapa anjloknya performa klub tersebut musim ini.
Kondisi tersebut pun memicu reaksi keras dari para suporter.
Dalam laga terakhir fase reguler, sejumlah spanduk bernada kritik tajam dibentangkan di stadion, menyebut musim ini sebagai yang terburuk dalam 30 tahun terakhir.
Kevin Diks pun menegaskan bahwa standar FC Copenhagen seharusnya selalu berada di level tertinggi.
- Facebook - Borussia Monchengladbach
“Sebuah klub seperti FC Copenhagen harus bersaing untuk memperebutkan trofi sepak bola Eropa dan domestik setiap tahunnya. Hal itu berjalan baik dalam beberapa tahun terakhir, tetapi ini jelas merupakan bencana,” lanjutnya.