- YouTube FIFA
Donald Trump Berulah, Pejabat Federasi Sepak Bola Jerman Bahas Soal Rencana Boikot Piala Dunia 2026
Jakarta, tvOnenews.com - Seorang petinggi Asosiasi Sepak Bola Jerman (DFB) melontarkan wacana sensitif dengan menyebut sudah waktunya membahas kemungkinan boikot Piala Dunia 2026. Isu ini mencuat menyusul kebijakan dan pernyataan kontroversial Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang memicu ketegangan politik dengan negara-negara Eropa.
Piala Dunia 2026 dijadwalkan digelar pada musim panas dan akan dipusatkan di tiga negara, yakni Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Dari total 104 pertandingan yang direncanakan FIFA, sebanyak 78 laga akan berlangsung di wilayah Amerika Serikat.
Ketegangan politik meningkat setelah Presiden Trump mengeluarkan pernyataan keras terkait rencana akuisisi Greenland yang saat ini berada di bawah kendali Denmark. Sikap tersebut memicu kemarahan para pemimpin Eropa dan memperkeruh hubungan diplomatik lintas Atlantik.
Tidak berhenti di situ, Trump juga sempat mengancam akan menerapkan tarif dagang terhadap delapan negara Eropa, termasuk Jerman. Meski ancaman tersebut kemudian ditarik kembali, situasi politik antara Eropa dan Amerika Serikat dinilai masih jauh dari kata kondusif.
“Saya benar-benar bertanya-tanya kapan waktunya tiba untuk memikirkan dan membicarakan hal ini [boikot] secara konkret,. Bagi saya, saat itu benar-benar telah tiba," kata Oke Gottlich, wakil presiden DFB, kepada surat kabar Hamburger Morgenpost seperti dikutip dari BBC.
Pernyataan Gottlich langsung menyita perhatian publik sepak bola Eropa karena menyentuh isu sensitif antara olahraga dan politik. Ia menilai dunia sepak bola tidak bisa sepenuhnya menutup mata terhadap dinamika global yang sedang terjadi.
Pemerintah Prancis sejauh ini menyatakan belum mendukung ide boikot Piala Dunia 2026. Sementara itu, Asosiasi Sepak Bola Denmark mengakui mereka menyadari situasi sensitif saat ini di tengah proses kualifikasi menuju turnamen.
Dalam menyampaikan argumennya, Gottlich mengaitkan wacana boikot ini dengan sejarah olahraga dunia. Ia menyinggung boikot Olimpiade 1980 yang dipimpin Amerika Serikat setelah invasi Uni Soviet ke Afghanistan.
“Apa saja pembenaran untuk boikot Olimpiade pada tahun 1980-an?. Menurut perkiraan saya, potensi ancamannya sekarang lebih besar daripada saat itu. Kita perlu membahas hal ini," kata Gottlich, yang juga menjabat sebagai presiden klub Bundesliga, St Pauli.
Jerman sendiri memiliki rekam jejak ketegangan dengan FIFA dalam isu politik di ajang Piala Dunia. Hal itu terlihat jelas pada Piala Dunia 2022 di Qatar terkait larangan penggunaan ban kapten OneLove.
Saat itu, FIFA mengancam akan memberikan kartu kuning kepada pemain yang tetap mengenakan ban kapten tersebut. Ban OneLove dirancang untuk menyuarakan pesan keberagaman dan inklusi di sepak bola dunia.
Sebagai bentuk protes, para pemain Timnas Jerman menutup mulut mereka saat sesi foto resmi sebelum laga pembuka melawan Jepang. Aksi tersebut disebut sebagai simbol perlawanan terhadap apa yang mereka anggap sebagai pembungkaman suara oleh FIFA.
“Menolak memberi kami ban kapten sama saja dengan menolak hak kami untuk bersuara. Kami tetap pada pendirian kami,” demikian pernyataan resmi DFB kala itu.
Gottlich kembali menegaskan kegelisahannya terhadap standar ganda dalam dunia sepak bola internasional. Ia mempertanyakan mengapa isu politik dianggap berlebihan di Qatar, namun seolah diabaikan ketika melibatkan Amerika Serikat.
“Qatar terlalu politis bagi semua orang dan sekarang kita benar-benar apolitis? Itu adalah sesuatu yang benar-benar, benar-benar, benar-benar mengganggu saya. Saya ingin tahu dari Donald Trump kapan dia telah mencapai batas tabunya, dan saya ingin tahu dari [presiden DFB] Bernd Neuendorf dan [presiden FIFA] Gianni Infantino,” ujar Gottlich. (fan)