- Reuters/Jordan Godfree
Profil Vozinha, Kiper Tanjung Verde Berusia 40 Tahun yang Bikin Spanyol Frustrasi di Piala Dunia 2026
Keputusan tersebut ternyata menjadi salah satu identitas yang kini dikenal jutaan penggemar sepak bola di seluruh dunia.
Laga melawan Spanyol menjadi panggung terbesar sepanjang karier Vozinha.
Menghadapi tim yang diperkuat sederet bintang Eropa seperti Rodri, Pedri, hingga Mikel Oyarzabal, ia tampil tanpa rasa takut.
Spanyol mendominasi pertandingan dengan penguasaan bola mencapai 74 persen dan melepaskan 27 tembakan sepanjang laga.
Namun, seluruh peluang berbahaya yang mengarah ke gawang berhasil dimentahkan oleh sang kiper veteran.
Menurut berbagai laporan statistik pertandingan, Vozinha mencatat tujuh penyelamatan penting yang membuat para pemain La Furia Roja frustrasi.
Berkat penampilan impresif tersebut, ia terpilih sebagai pemain terbaik atau man of the match.
Hasil imbang ini juga menjadi sejarah bagi Tanjung Verde yang untuk pertama kalinya tampil di putaran final Piala Dunia.
Di balik ekspresi bahagia setelah pertandingan, ternyata tersimpan kisah emosional yang menyentuh hati.
Usai laga, kamera sempat menyorot Vozinha yang terlihat menahan air mata saat dipeluk rekan-rekan setimnya.
Dalam wawancara dengan FOX Sports, ia mengaku momen tersebut merupakan puncak dari perjuangan panjang hidupnya.
"Saya bekerja sepanjang hidup untuk momen ini, untuk mimpi ini. Banyak generasi sebelumnya juga memimpikan hal yang sama, tetapi mereka tidak berhasil mencapainya," ujar Vozinha.
Ia senang, sekarang mimpinya menjadi kenyataan.
"Kami berada di sini karena bekerja sangat keras. Kami pantas berada di sini dan bermain melawan salah satu tim nasional terbaik di dunia," ungkapnya.
Selain rasa haru karena berhasil tampil di Piala Dunia, Vozinha juga mengaku sedih karena orang-orang terdekatnya tidak bisa menyaksikan langsung pertandingan bersejarah tersebut.
"Saya menangis setelah pertandingan karena saya dibesarkan oleh kakek-nenek saya ketika masih kecil, dan mereka tidak bisa hadir. Mereka meninggal beberapa tahun yang lalu," katanya.
"Ibu saya juga tidak bisa hadir karena masalah visa, dan uang yang harus kami bayarkan untuk itu. Kami tidak berhasil mengurusnya tepat waktu," tambahnya.
Kisah tersebut membuat banyak penggemar sepak bola di berbagai negara semakin bersimpati kepada sang penjaga gawang.