- REUTERS/Annegret Hilse
Pernah Dipermalukan Timnas Indonesia Dua Kali, Curacao Kini Cetak Sejarah Baru di Piala Dunia 2026
tvOnenews.com - Curacao akhirnya menorehkan sejarah di panggung Piala Dunia 2026.
Negara kepulauan kecil di Karibia itu sukses meraih poin perdana dalam sejarah penampilan mereka di Piala Dunia setelah menahan Ekuador 0-0 pada laga kedua Grup E Piala Dunia 2026, Minggu (21/6/2026) pagi WIB.
Hasil ini terasa spesial karena Curacao datang ke turnamen sebagai salah satu tim debutan dan sempat dipandang sebelah mata.
Namun di tengah tekanan besar, mereka justru mampu menunjukkan mentalitas kuat dan organisasi permainan yang rapi untuk mencuri satu poin berharga dari tim sekelas Ekuador.
Pertandingan berjalan ketat sejak menit awal. Ekuador tampil lebih dominan dalam penguasaan bola dan lebih sering mengancam pertahanan lawan, tetapi Curacao bermain disiplin dan tak memberi ruang terlalu banyak di area berbahaya.
Laga ini pada akhirnya berubah menjadi panggung bagi dua penjaga gawang, yakni Hernan Galindez di kubu Ekuador dan Eloy Room di sisi Curacao.
- IMAGN IMAGES via Reuters/William Purnell
Room tampil luar biasa di bawah mistar. Kiper senior itu berkali-kali mematahkan peluang Ekuador dan menjadi alasan utama Curacao mampu menjaga gawangnya tetap perawan hingga peluit akhir.
Ketangguhannya membuat Curacao pulang dengan hasil bersejarah, sekaligus menjaga asa mereka untuk lolos ke babak 32 besar tetap hidup.
Bagi Curacao, satu poin ini bukan sekadar tambahan angka di klasemen. Hasil tersebut adalah penegasan bahwa mereka tidak datang ke Piala Dunia 2026 hanya sebagai pelengkap.
Setelah dibantai Jerman pada laga pertama, Curacao berhasil bangkit dan memperlihatkan respons luar biasa saat menghadapi lawan yang secara kualitas juga berada di level tinggi.
Menariknya, sebelum meraih poin bersejarah itu, Curacao sebenarnya sudah lebih dulu mencatatkan momen penting lain di turnamen ini.
Saat menghadapi Jerman pada laga pembuka, Livano Comenencia sukses mencetak gol pertama Curacao di putaran final Piala Dunia.
Meski laga tersebut berakhir pahit, gol itu tetap menjadi penanda penting bahwa Curacao akhirnya benar-benar hadir di panggung terbesar sepak bola dunia.
Tak hanya itu, Curacao juga datang ke Piala Dunia 2026 dengan kisah unik di pinggir lapangan.
Mereka dilatih oleh Dick Advocaat, sosok kawakan asal Belanda yang mencatat rekor sebagai pelatih tertua dalam sejarah Piala Dunia.
Kehadiran Advocaat memberi warna tersendiri bagi perjalanan Curacao, terutama karena ia mampu membawa tim kecil ini tampil jauh lebih terorganisasi dan berani bersaing.
Transformasi Curacao di bawah Dick Advocaat jelas menjadi salah satu cerita menarik di Piala Dunia 2026.
Dengan populasi yang sangat kecil dibanding banyak negara peserta lain, Curacao tetap mampu membangun tim yang kompetitif.
Mereka tidak selalu unggul dalam kualitas individu, tetapi punya semangat kolektif, kedisiplinan, dan keberanian untuk melawan tim yang di atas kertas lebih kuat.
Bagi publik Indonesia, pencapaian Curacao ini tentu menghadirkan perasaan campur aduk.
Pasalnya, tim yang kini sedang mencuri perhatian di Piala Dunia itu pernah dua kali dipermalukan Timnas Indonesia pada FIFA Matchday September 2022.
Kala itu, skuad Garuda asuhan Shin Tae-yong sukses mengalahkan Curacao 3-2 di Bandung dan 2-1 di Bogor.
Dua kemenangan itu sempat menjadi salah satu momen penting kebangkitan Timnas Indonesia karena diraih atas lawan yang saat itu punya ranking FIFA lebih tinggi.
Namun, empat tahun berselang, Curacao menunjukkan perkembangan yang sangat signifikan.
Dari tim yang tumbang dua kali di tangan Indonesia, mereka kini berhasil menorehkan sejarah di Piala Dunia.
Perubahan itulah yang membuat hasil imbang kontra Ekuador terasa begitu besar. Curacao bukan hanya mencuri satu poin, melainkan juga mengirim pesan bahwa mereka terus berkembang.
Pengalaman tampil di kualifikasi, sentuhan pelatih berpengalaman, dan keberanian memainkan sepak bola yang disiplin perlahan mengubah wajah tim ini.
Hasil seri melawan Ekuador juga membuat peta persaingan Grup E semakin panas.
Jerman dipastikan lolos sebagai juara grup setelah mengoleksi dua kemenangan, sementara satu tiket tersisa ke babak 32 besar masih diperebutkan oleh Curacao, Ekuador, dan Pantai Gading.
Situasi ini membuat laga terakhir grup bakal berjalan sangat menegangkan.
Curacao dijadwalkan menghadapi Pantai Gading dalam partai penentuan.
Jika mampu menang, mereka berpeluang besar mencetak sejarah yang lebih besar lagi dengan lolos ke fase gugur.
Di saat bersamaan, Ekuador harus berhadapan dengan Jerman, lawan yang tentu tidak mudah ditaklukkan.
Melihat perkembangan sejauh ini, Curacao jelas tak bisa lagi dipandang sebelah mata. Mereka mungkin datang ke Piala Dunia 2026 sebagai tim debutan, tetapi performa melawan Ekuador membuktikan bahwa mereka punya daya saing.
Kini, Curacao tinggal selangkah lagi untuk melengkapi kisah indah mereka di Piala Dunia 2026.
Dari tim yang pernah dua kali tumbang di tangan Timnas Indonesia, mereka menjelma menjadi salah satu kuda hitam yang mencuri sorotan dunia.
Dan jika tren positif ini berlanjut, bukan tidak mungkin Curacao akan menulis babak sejarah berikutnya dalam waktu dekat.
(tsy)