- Reuters-Stefan Koops/EYE4IMAGES/NurPhoto
Jauh Sebelum Tampil Wakili Belanda di Piala Dunia, Ternyata Ada Ayah yang Gagalkan Sabotase Karir Tijjani Reijnders
Jakarta, tvOnenews.com - Pemain keturunan Indonesia, Tijjani Reijnders tampil apik di Piala Dunia 2026 bersama Belanda. Kakak dari Eliano Reijnders ini bahkan mencatatkan kemenangan dari Swedia.
Ternyata jauh sebelum menjadi andalan Ronald Koeman bersama Belanda, Tijjani Reijnders hampir terkena sabotase. Berkat sang ayah, Martin Reijnders, karirnya pun selamat sehingga sampai ke titik ini.
Ayah Tijjani Reijnders, Martin Reijnders juga mengawali karir di sepak bola. Dia pun kerap mendampingi kakak beradik ini ketika masih di level junior.
Menariknya, sang ayah ternyata pernah menggagalkan sabotase yang dilakukan oleh seorang pelatih muda di PEC Zwolle. Saat itu, Tijjani Reijnders yang memiliki posisi gelandang justru disimpan di sayap kanan.
Martin Reijnders tentu sudah mengenal sang anak dan tahu bahwa dia tak memiliki kemampuan bermain di posisi tersebut. Merasa belum terlambat, sang ayah pun menggagalkan sabotase tersebut.
"Saat itu dia bermain di tim A1 PEC Zwolle, pelatih itu mengira dia adalah pemain sayap kanan yang hebat. Tapi dia tidak memiliki kemampuan bermain di posisi itu," kata Martin Reijnders dikutip dari laman Sport Nieuws, Minnggu (21/6/2026).
Tak menunggu lama, dia pun mengintervensi sang pelatih dan berakhir dengan adu mulut agar Tijjani Reijnders tetap berada di posisinya sebagai pemain gelandang.
"Saya mengamati hal itu untuk beberapa saat dan karena keras kepala, saya menghampiri pelatih itu dan berkata, 'anda tidak akan merusak karir anak saya dengan cara itu'," kata Martin Reijnders mengulang kejadian tersebut.
Dia mengakui terpaksa melakukan cara yang agak kasar karena sudah lebih dahulu meminta secara sopan. Di mengakui kejadian tersebut tak bisa dibiarkan karena Tijjani Reijnders memang seharusnya di posisi gelandang bertahan.
"Dia kemudian menurunkannya sebagai pemain gelandang bertahan dalam pertandingan persahabatan, kemudian semuanya tiba-tiba berubah dengan cepat," kata Martin Reijnders.
Dia mengaku tak pernah menyesali perbuatannya itu meski sadar intervensi tak boleh dilakukan oleh orang tua. Namun sebagai pemain sepak bola, dia sudah seharusnya menyelamatkan karir anaknya.
"Saya sudah menjelaskan dengan sangat jelas bahwa itu bukan niat saya. Yang sebenarnya tentu saja tidak mungkin," katanya. (hfp)