news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Cerita Shayne Pattynama Soal Ramadan di Tanah Air.
Sumber :
  • Persija

Cerita Shayne Pattynama Soal Ramadan di Tanah Air: Penuh Makna dan Jadi Sumber Motivasi

‎Bagi Shayne Pattynama, Ramadan bukan hanya tentang rutinitas tahunan umat Muslim.
Minggu, 22 Februari 2026 - 15:02 WIB
Editor :

‎Jakarta, tvOnenews.com - Ramadan menghadirkan kesan tersendiri bagi setiap orang yang merasakannya, termasuk para pesepakbola. Hal itu juga dirasakan oleh Shayne Pattynama selama menjalani kariernya di Indonesia.

‎Bagi pemain yang kini membela Persija Jakarta tersebut, Ramadan bukan hanya tentang rutinitas tahunan umat Muslim. Ia memaknainya sebagai ruang belajar mengenai penghormatan, kedisiplinan, dan arti toleransi di tengah keberagaman.

‎Shayne menilai suasana bulan suci di Indonesia memiliki energi yang berbeda. Ia melihat bagaimana masyarakat menyambut Ramadan dengan penuh antusias dan kebersamaan.

‎Meski bukan pengalaman pertamanya bersentuhan dengan Ramadan, atmosfer di Indonesia tetap memberi warna baru. Sebelum berkarier di Tanah Air, ia sudah cukup akrab dengan tradisi puasa dari lingkaran pertemanannya.

‎Lingkungan yang multikultural membuatnya sering menyaksikan langsung rekan-rekannya menjalani ibadah puasa. Ia pun memahami bahwa Ramadan bukan sekadar menahan lapar, tetapi juga menjaga komitmen dalam aktivitas sehari-hari.

‎"Banyak teman saya yang beragama Islam dan mereka tetap berlatih serta beraktivitas selama Ramadan," kata Shayne Pattynama kepada pewarta, Sabtu (21/2/2026).

‎"Sebelum ke Indonesia, saya sudah terbiasa melihat dan memahami Ramadan," tambahnya.

‎Pengalaman tersebut menumbuhkan rasa hormat yang mendalam dalam dirinya. Bahkan, ia sempat mencoba berpuasa untuk merasakan langsung tantangan yang dihadapi para atlet Muslim.

‎Baginya, mencoba berpuasa menjadi cara untuk lebih memahami perjuangan fisik sekaligus mental. Dari situ, ia semakin menghargai dedikasi para pemain yang tetap tampil maksimal di lapangan.

‎"Saya sangat menghormati semua orang yang menjalankannya karena itu tidak mudah, terutama bagi atlet," kata Shayne.

‎"Saya pernah mencoba puasa sekitar 12 jam, dan itu jelas tidak mudah, apalagi dengan cuaca yang cukup panas," sambungnya.

‎Di balik sisi beratnya, Shayne melihat Ramadan sebagai momentum yang sarat nilai positif. Ia merasakan ada nuansa kebersamaan dan makna spiritual yang kuat.

‎Menurutnya, perbedaan paling mencolok terasa ketika membandingkan suasana Ramadan di Indonesia dengan negara lain. Di Indonesia, gema Ramadan terasa menyeluruh dan hidup dalam berbagai aktivitas masyarakat.

‎"Ramadan terasa seperti sebuah perayaan, sesuatu yang dilakukan dengan penuh makna," ucap eks Buriram United tersebut.

‎"Di sini, lebih banyak orang yang menjalankan Ramadan karena mayoritas penduduknya muslim, suasananya terasa lebih kuat dan lebih hidup," lanjutnya.

‎Dalam konteks sepak bola profesional, Ramadan juga memengaruhi ritme kompetisi. Jadwal pertandingan biasanya disesuaikan dengan waktu berbuka agar para pemain bisa tampil lebih optimal.

‎Shayne sendiri mengaku tidak merasakan langsung dampak fisik puasa terhadap performa karena ia tidak menjalaninya secara rutin. Namun, ia banyak mendengar cerita dari rekan-rekannya mengenai pengalaman berbeda selama bulan suci.

‎Pada akhirnya, Shayne menilai Ramadan dapat menjadi sumber kekuatan batin bagi mereka yang menjalaninya dengan penuh keyakinan. Ia memandang bulan suci itu sebagai dorongan moral yang mampu meningkatkan semangat.

‎"Ada pemain yang merasa Ramadan justru memberi mereka energi tambahan karena ini bulan suci dan penuh motivasi, ada juga yang merasa lebih berat karena asupan makanan dan energi terbatas, sementara tuntutan latihan dan pertandingan tetap tinggi," jelasnya.

‎"Ramadan adalah bulan suci yang bisa menjadi motivasi tambahan, itu perspektif yang sangat positif," tutupnya.
‎(igp/hfp) 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

21:54
05:06
03:36
29:02
04:42
05:28

Viral