- instagram albrtoo_10
Siapa Sih Fadly Alberto? Dari Bintang Timnas U-17 ke Sorotan Insiden ‘Tendangan Kungfu’ EPA U-20
Lahir di Timika, Papua Tengah, pada 2008, Fadly Alberto Hengga tumbuh besar di Bojonegoro, Jawa Timur.
Perjalanannya tidak instan. Ia memulai dari turnamen kecil hingga akhirnya masuk radar tim nasional usia muda.
“Sejak kecil, saya selalu memegang bola, dan saya selalu merasa memiliki darah pemain bola,” ujarnya dalam wawancara di laman resmi AFC.
Peran keluarga juga besar dalam membentuk kariernya.
“Ibu saya membawa saya ke turnamen di mana pun diadakan, dan saya mulai bermain dengan serius pada usia sembilan tahun dan menjadi bagian dari tim nasional U16 pada usia 15 tahun,” katanya.
Motivasi utamanya sederhana: ingin membuat keluarganya bangga. Secara permainan, Fadly dikenal sebagai penyerang dengan fisik kuat dan gaya bermain agresif.
Di level EPA U-20 bersama Bhayangkara FC U-20, ia menjadi salah satu andalan lini depan. Konsistensi performanya membuat ia sempat masuk proyeksi Timnas Indonesia U-20.
Namun, seperti banyak pemain muda bertipe agresif, kontrol emosi menjadi tantangan tersendiri.
Dalam sepak bola modern, aspek mental kini bahkan dianggap sama pentingnya dengan kemampuan teknis, faktor yang menjadi pembeda antara pemain hebat dan pemain bermasalah.
- instagram albrtoo_10
Kronologi Tendangan Kungfu: Insiden yang Mengubah Segalanya
Laga antara Dewa United U-20 melawan Bhayangkara FC U-20 di Stadion Citarum, Semarang, Minggu (19/4/2026), awalnya berlangsung normal.
Dewa United U-20 menang 2-1, tetapi ketegangan meningkat setelah pertandingan usai.
Dalam situasi panas di pinggir lapangan, seorang pemain Bhayangkara FC U-20 terlihat berlari kencang lalu melepaskan tendangan ke arah lawan di tengah kerumunan.
Aksi ini kemudian dikenal sebagai “tendangan kungfu” dan viral di media sosial.
Meski identitas pelaku belum dipastikan secara resmi, nama Fadly Alberto EPA U-20 muncul sebagai salah satu yang diduga terlibat.
Dalam laporan lanjutan, disebutkan bahwa tendangan tersebut mengenai bagian kepala belakang pemain lawan.
Pihak klub menyebut Fadly mengaku terpancing emosi akibat dugaan hinaan rasial dari bangku cadangan lawan. Namun, mereka tetap menegaskan bahwa kekerasan tidak dapat dibenarkan dalam kondisi apa pun.