news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Bandung jadi penutup Soccer for Equality.
Sumber :
  • Istimewa

Bandung Jadi Penutup Soccer for Equality 2026, Ratusan Tim Gaungkan Kesetaraan Gender dan Hak Pendidikan Anak

Turnamen ini diikuti 173 tim dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk 32 tim sepak bola putri kelompok usia 10-12 tahun
Minggu, 19 Juli 2026 - 19:57 WIB
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com - Kota Bandung didapuk menjadi tuan rumah babak final turnamen nasional "Soccer for Equality 2026", sebuah kompetisi yang digagas Plan Indonesia bersama SalingJaga dari Kitabisa. 

Turnamen ini diikuti 173 tim dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk 32 tim sepak bola putri kelompok usia 10-12 tahun.

Melalui ajang tersebut, penyelenggara ingin menghapus stigma bahwa sepak bola hanya diperuntukkan bagi laki-laki, sekaligus menggalang solidaritas untuk mendukung pemenuhan hak pendidikan anak-anak di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Direktur Eksekutif Plan Indonesia, Dini Widiastuti, menegaskan bahwa sepak bola merupakan ruang yang terbuka bagi siapa saja tanpa memandang gender.

"Sepak bola adalah ruang yang setara. Di lapangan tidak ada batasan siapa yang boleh bermimpi atau menunjukkan kemampuan," kata Dini Widiastuti di Bandung, Minggu (19/7/2026).

Soccer for Equality 2026 sebelumnya digelar di lima kota, yakni Jabodetabek, Malang, Balikpapan, Makassar, dan ditutup dengan babak final di Bandung. Jumlah peserta tahun ini juga meningkat signifikan dibanding edisi sebelumnya yang hanya berlangsung di dua kota.

Menurut Dini, Bandung dipilih sebagai lokasi puncak turnamen karena memiliki budaya sepak bola yang sangat kuat dan antusiasme masyarakat yang tinggi terhadap olahraga tersebut.

"Kalau bicara sepak bola, Bandung punya animo yang sangat besar. Kami juga memiliki beberapa kerja sama jangka panjang dengan komunitas dan pihak-pihak di dunia sepak bola, sehingga Bandung menjadi tempat yang tepat untuk menutup rangkaian turnamen ini," ujarnya.

Ia menilai peningkatan jumlah peserta menjadi sinyal positif bahwa semakin banyak anak-anak, termasuk perempuan, yang melihat sepak bola sebagai ruang untuk berkembang, bukan sekadar ajang kompetisi.

Lebih dari sekadar pertandingan, Soccer for Equality juga membawa misi sosial untuk membangun kepemimpinan, solidaritas, hingga keberanian anak perempuan dalam menembus stigma yang selama ini melekat di dunia sepak bola.

Program tersebut juga terhubung dengan pendampingan Plan Indonesia di Nusa Tenggara Timur, di mana anak-anak perempuan tidak hanya mendapatkan pelatihan sepak bola, tetapi juga edukasi mengenai kesehatan reproduksi, pencegahan perundungan, serta penguatan karakter dan kepemimpinan.

"Norma bahwa sepak bola hanya untuk anak laki-laki ingin kami ubah. Anak perempuan juga punya hak yang sama untuk bermain, berkembang, dan memimpin," kata Dini.

Selain itu, peserta turnamen turut diperkenalkan dengan kondisi pendidikan di NTT. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), rata-rata lama sekolah di provinsi tersebut pada 2024 baru mencapai sekitar 8,38 tahun, masih berada di bawah rata-rata nasional sebesar 9,22 tahun.

Melalui pendekatan tersebut, penyelenggara berharap para peserta semakin memahami bahwa masih banyak anak Indonesia yang menghadapi keterbatasan akses pendidikan sehingga tumbuh semangat gotong royong untuk membantu mereka.

Semangat kesetaraan itu juga dirasakan langsung oleh para peserta. Salah satunya Naquita, pemain tim putri Akademi Persib yang telah menekuni sepak bola sejak masih duduk di bangku taman kanak-kanak.

Siswi kelas 5 SD Pelita Bandung itu mengaku turnamen tersebut memberikan pengalaman berharga, bukan hanya soal mengejar gelar juara, tetapi juga memperluas pertemanan dengan peserta dari berbagai daerah.

"Senang banget ikut di sini karena dapat teman baru dan tim bisa berjuang sampai juara," ujar Naquita.

Menurutnya, sepak bola juga membentuk karakter disiplin. Saat pertandingan dimulai, setiap pemain dituntut untuk fokus dan memberikan kemampuan terbaik demi tim.

Sementara itu, VP Crowdfunding Kitabisa sekaligus perwakilan SalingJaga/Beyond The Game, Marsudi Wijaya, menilai olahraga dapat menjadi jembatan untuk menggerakkan kepedulian sosial masyarakat.

"Kami percaya perubahan besar dimulai dari aksi bersama. Lewat semangat gotong royong melalui sepak bola, kami ingin membuka kesempatan yang lebih adil bagi anak-anak perempuan di NTT untuk memperoleh hak pendidikan," kata Marsudi.
 

 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

05:28
02:23
01:37
04:43
04:30
05:26

Viral