- tvOnenews-Ilham GIovani
Legenda Manchester United Ryan Giggs Kritik Kebiasaan Pesepak Bola Modern: Bagi Saya Itu Aneh
Jakarta, tvOnenews.com - Legenda Manchester United, Ryan Giggs, mengaku heran melihat kebiasaan para pesepak bola modern yang saling berpelukan sebelum pertandingan dimulai.
Mantan pemain Timnas Wales itu menilai gestur tersebut sangat berbeda dengan budaya persaingan yang dirasakannya ketika masih aktif bermain.
Giggs mengungkapkan pandangannya mengenai perubahan kultur sepak bola dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (9/10/2026). Dalam momen itu, ia membandingkan hubungan antarpemain pada masa kejayaannya bersama Manchester United dengan kebiasaan para pesepak bola saat ini.
Menurut Giggs, pertandingan pada masa lalu kerap diwarnai rivalitas yang sangat kuat antara pemain dari klub berbeda. Situasi tersebut membuat hubungan antarpemain lawan tidak selalu terlihat akrab, terutama menjelang pertandingan penting.
Berbeda dengan kondisi sekarang, Giggs mengaku jarang melihat pemain saling menunjukkan keakraban sebelum pertandingan dimulai. Ia menyebut para pesepak bola pada eranya lebih sering menjaga jarak dengan pemain lawan.
Hal tersebut semakin terasa ketika Manchester United harus menghadapi klub yang menjadi pesaing utama dalam perebutan gelar. Giggs pun merasa kebiasaan para pemain modern yang saling berpelukan sebelum pertandingan merupakan sesuatu yang tidak biasa.
"Saya merasa heran ketika menonton pertandingan dan melihat para pemain saling berpelukan sebelum laga dimulai," ujar Giggs.
Giggs menjelaskan bahwa para pemain pada masa lalu sebenarnya tetap saling menyapa ketika bertemu di lapangan. Namun, perlakuan berbeda biasanya hanya diberikan kepada sosok yang sudah dikenal secara pribadi atau pernah menjadi rekan satu tim.
Kondisi tersebut membuat suasana sebelum pertandingan terasa berbeda dibandingkan sepak bola modern. Giggs mengaku tidak terbiasa melihat para pemain dari dua kesebelasan menunjukkan keakraban secara terbuka menjelang pertandingan.
"Dulu, kecuali jika bertemu teman atau pemain yang pernah jadi rekan satu tim, kami biasanya hanya saling menyapa. Sekarang, semua orang berpelukan sebelum pertandingan. Bagi saya, itu aneh," kata Giggs.
Meski hubungan antarpemain rival tidak selalu akrab, Giggs menegaskan bahwa rasa saling menghormati tetap menjadi bagian penting dalam sepak bola. Menurutnya, para pemain memahami bahwa mereka sedang menghadapi lawan yang mempunyai kualitas dan kemampuan tinggi.
Hal tersebut juga dirasakan Giggs ketika Manchester United terlibat persaingan sengit dengan klub-klub besar Liga Inggris. Rivalitas yang terjadi tidak menghilangkan penghormatan terhadap kemampuan pemain lawan di atas lapangan.
Giggs menambahkan bahwa interaksi antarpemain setelah pertandingan juga cenderung berlangsung singkat. Mereka biasanya hanya berjabat tangan sebagai bentuk penghormatan sebelum kembali menjalani aktivitas masing-masing.
Menurutnya, para pemain pada masa itu tidak merasa perlu membangun hubungan yang lebih dekat dengan rival mereka. Situasi tersebut menjadi salah satu perbedaan yang paling dirasakannya ketika membandingkan sepak bola dahulu dan sekarang.
"Dahulu, kami tidak menyukai satu sama lain tetapi tetap saling menghormati karena tahu bahwa kami menghadapi pemain dan tim yang bagus," ucapnya.
"Setelah pertandingan, kami berjabat tangan, mengucapkan selamat atas pertandingan yang bagus lalu pergi. Kami tidak benar-benar ingin mengenal satu sama lain," sambungnya.
Ryan Giggs sendiri merupakan salah satu legenda Manchester United yang menghabiskan seluruh karier seniornya bersama satu klub. Pemain asal Wales tersebut dikenal sebagai sosok One Man Club setelah membela Setan Merah selama 23 tahun di tim utama.
Sepanjang kariernya bersama Manchester United, Giggs mencatatkan 963 penampilan dengan kontribusi 168 gol dan 272 assist. Ia kemudian memutuskan pensiun sebagai pesepak bola profesional pada Juli 2014 setelah menjalani perjalanan panjang bersama klub tersebut.
Menariknya, pandangan Giggs mengenai hubungan dengan pemain rival justru mengalami perubahan setelah dirinya gantung sepatu. Ia mulai menyadari bahwa sejumlah pemain yang dahulu menjadi lawannya ternyata merupakan sosok yang menyenangkan ketika ditemui di luar lapangan.
Pengalaman tersebut didapatkan Giggs ketika mengikuti berbagai kegiatan bersama mantan pemain Arsenal, termasuk Gilberto Silva dan Robert Pires. Pertemuan setelah pensiun membuatnya memiliki kesempatan untuk mengenal lebih dekat para mantan rival yang dahulu kerap dihadapinya.
"Setelah pensiun, saya pernah bermain bersama Gilberto dan Robert dalam berbagai kegiatan. Barulah saya berpikir, ternyata mereka orang-orang yang hebat dan menyenangkan. Kami bisa duduk bersama dan minum kopi," pungkasnya. (igp/hfp)