- Antara/ REUTERS / Andrew Winning, instagram Ruben Amorim, Dari Moyes
Inikah Dafar Pelatih Terburuk Manchester United? Dari Moyes hingga Amorim, Kini Harapan Bernama Michael Carrick
- fenerbahce.org
Namun, konflik internal, gaya bermain pragmatis, dan hubungan buruk dengan pemain membuat periode Mourinho berakhir pahit. Meski statistik kemenangannya relatif baik, atmosfer negatif di ruang ganti menjadi warisan terbesarnya.
Solskjaer dan Rangnick: Romantisme dan Eksperimen yang Gagal
Ole Gunnar Solskjaer sempat menghidupkan kembali romantisme Old Trafford. Datang sebagai interim, ia membawa energi positif dan sepak bola menyerang.
- Kolase tvOnenews.com
Namun, ketidakmampuan mengonversi progres menjadi trofi membuat eranya berakhir tanpa gelar, meski sempat finis runner-up Premier League dan mencapai final Europa League.
Ralf Rangnick kemudian datang sebagai solusi jangka pendek. Dikenal sebagai arsitek gegenpressing, ia justru gagal menerapkan idenya.
Intensitas tinggi tak cocok dengan kondisi skuad, ruang ganti terpecah, dan MU mencatatkan rekor kebobolan terburuk di era Premier League. Proyek konsultannya pun dibatalkan, menandai kegagalan total.
- Twitter/@manchesterunited
Ruben Amorim: Ekspektasi Tinggi, Hasil Rendah
Ruben Amorim menjadi simbol kekecewaan terbaru. Datang dengan reputasi mentereng dari Sporting CP, ia diharapkan membawa revolusi taktik.
Namun, sistem 3-4-3 yang kaku, inkonsistensi performa, serta ketegangan ruang ganti membuat MU kembali tersesat.
Tanpa satu pun trofi dan win-rate rendah, Amorim akhirnya dipecat pada awal 2026. Data dari laman resmi Manchester United dan arsip pertandingan klub menunjukkan periode ini sebagai salah satu yang paling tidak produktif dalam sejarah modern MU.
- instagram Ruben Amorim
Michael Carrick: Awal Baru Setelah Derbi Manchester
Di tengah daftar panjang kegagalan itu, Michael Carrick muncul membawa harapan. Debutnya sebagai pelatih Manchester United langsung mencuri perhatian setelah mengantar Setan Merah menang 2-0 atas Manchester City.
Kemenangan derbi ini bukan hanya soal skor, tetapi tentang ketenangan, keseimbangan taktik, dan pendekatan yang lebih membumi.
Carrick, yang mencatatkan 464 penampilan sebagai pemain MU (sumber: laman resmi Manchester United), memahami DNA klub: keseimbangan antara hasil dan identitas permainan. Ia tidak membawa revolusi instan, tetapi fokus pada struktur sederhana, disiplin, dan kepercayaan diri pemain.