Sebagian Warga AS Ogah Uang Pajak Digunakan untuk Operasi Militer
Jakarta, tvOnenews.com - Konflik yang memanas antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat mulai berdampak pada perekonomian di Amerika Serikat. Salah satu dampak yang paling terasa adalah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.
Dari pantauan di kawasan Brooklyn, New York City, Harga bbm tercatat mencapai sekitar 3,45 dolar AS per galon. Angka ini meningkat dibandingkan harga sebelum konflik memanas yang berada di kisaran 2,85 dolar AS per galon.
Dalam kurun waktu sekitar delapan hari, harga BBM mengalami kenaikan sekitar 21 persen.
Kenaikan tersebut dipicu oleh melonjaknya harga minyak mentah dunia yang kini mencapai sekitar 100 dolar AS per barel.
Kondisi ini dipengaruhi oleh konflik di kawasan Teluk serta penutupan jalur pelayaran strategis Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur utama distribusi minyak dunia.
Lonjakan harga bahan bakar ini dikhawatirkan akan berdampak pada kenaikan harga kebutuhan pokok serta biaya transportasi, termasuk tiket penerbangan.
Sejumlah maskapai bahkan disebut mulai mempertimbangkan penyesuaian harga tiket dalam waktu dekat.
Sementara itu, situasi politik di Amerika Serikat juga diwarnai perdebatan terkait operasi militer terhadap Iran.
Presiden Donald Trump menyatakan operasi militer akan terus dilakukan bersama Israel, kecuali Iran menyerah tanpa syarat.
Di tingkat legislatif, Kongres Amerika Serikat sebelumnya gagal meloloskan rancangan undang-undang yang bertujuan membatasi kewenangan presiden dalam menjalankan operasi militer.
Selisih suara antara pihak yang mendukung dan menolak langkah tersebut dilaporkan sangat tipis.
Perbedaan pandangan juga terjadi di kalangan masyarakat. Sejumlah warga menggelar demonstrasi menentang operasi militer karena khawatir biaya perang yang mencapai triliunan dolar akan membebani keuangan negara dan berdampak pada kondisi ekonomi domestik.
Namun di sisi lain, terdapat pula kelompok masyarakat yang mendukung langkah pemerintah dengan alasan keamanan nasional.
Berdasarkan sejumlah survei terbaru, sekitar 27 hingga 30 persen warga Amerika Serikat menyatakan mendukung operasi militer tersebut, sementara hampir separuh responden menyatakan menolak.
Pemerintah setempat juga meningkatkan kewaspadaan keamanan di berbagai kota untuk mengantisipasi potensi aksi balasan maupun gangguan keamanan yang berkaitan dengan konflik di Timur Tengah.