- REUTERS/David Klein
Manchester United Catat Rekor Terburuk dalam 42 Tahun Terakhir, Michael Carrick: Kami Ingin Menang
Jakarta, tvOnenews.com - Manchester United semakin terpuruk setelah menelan kekalahan dari Chelsea dalam lanjutan Liga Inggris 2026/2027. Hasil tersebut membuat Setan Merah mencatatkan sembilan pertandingan beruntun tanpa kemenangan, sekaligus menjadi periode terburuk klub dalam 42 tahun terakhir.
Manchester United harus mengakui keunggulan Chelsea dengan skor 0-2 pada pertandingan yang berlangsung di Stamford Bridge, Sabtu (31/10/2026) malam WIB. Kekalahan tersebut semakin memperpanjang catatan negatif skuad asuhan Michael Carrick yang belum mampu menemukan jalan keluar dari keterpurukan.
Situasi Manchester United semakin sulit setelah harus menyelesaikan pertandingan dengan sepuluh pemain. Bek asal Argentina, Lisandro Martinez, mendapatkan kartu merah sehingga Setan Merah kehilangan satu pemain saat menghadapi tekanan Chelsea.
Kekalahan dari Chelsea membuat Manchester United kini sudah menjalani sembilan pertandingan secara beruntun tanpa merasakan kemenangan di seluruh kompetisi. Dalam periode tersebut, Bruno Fernandes dan rekan-rekannya hanya mampu mencatatkan tiga hasil imbang serta enam kekalahan.
Catatan tersebut menjadi sorotan karena Manchester United merupakan salah satu klub dengan sejarah panjang dan prestasi besar di sepak bola Inggris. Namun, performa Setan Merah pada musim ini justru semakin jauh dari harapan para pendukungnya.
Bahkan, kemenangan terakhir Manchester United sudah terjadi lebih dari satu bulan sebelum pertandingan menghadapi Chelsea. Pasukan Michael Carrick terakhir kali meraih kemenangan ketika menghadapi Sabah FK pada 10 September 2026 dalam pertandingan Liga Champions.
Sejak kemenangan tersebut, Manchester United terus mengalami kesulitan untuk mengamankan hasil maksimal. Berbagai pertandingan yang dijalani Setan Merah berakhir tanpa kemenangan hingga akhirnya mencatatkan sembilan laga beruntun dengan hasil negatif.
Rentetan tersebut menjadi periode tanpa kemenangan terburuk Manchester United dalam 42 tahun terakhir. Setan Merah terakhir kali mengalami catatan lebih buruk pada 1984 ketika melewati sepuluh pertandingan secara beruntun tanpa meraih kemenangan.
Kondisi Manchester United juga tidak kalah mengkhawatirkan jika hanya melihat perjalanan mereka di kompetisi Liga Inggris. Klub yang bermarkas di Old Trafford tersebut tercatat gagal meraih kemenangan dalam enam pertandingan terakhirnya di Premier League.
Akibat rentetan hasil buruk tersebut, Manchester United harus terpuruk hingga tepat berada di atas zona degradasi atau di peringkat ke-17 klasemen sementara Liga Inggris 2026/2027. Setan Merah bahkan hanya memiliki keunggulan satu poin dari tim-tim yang berada di zona merah.
Situasi ini membuat tekanan terhadap Michael Carrick semakin besar karena Manchester United membutuhkan kemenangan untuk memperbaiki posisi di klasemen. Sang pelatih pun tidak menutupi kekecewaannya setelah kembali menyaksikan timnya gagal mengamankan poin saat menghadapi Chelsea.
"Ada banyak emosi saat ini. Kami memang klub luar biasa, tapi kami ingin menang. Suporter sudah menunjukkan usahanya dan membayar mahal untuk menyaksikan pertandingan kami," ujar Carrick dilansir dari TNT Sports, Minggu (1/11/2026).
Michael Carrick menilai para pemain Manchester United sebenarnya telah berusaha membawa pertandingan berjalan sesuai rencana. Namun, situasi di lapangan berubah drastis hingga akhirnya membuat Setan Merah kehilangan kendali atas jalannya laga.
"Hari ini terlihat bahwa anak-anak sudah menempatkan pertandingan di jalur yang tepat, tapi keadaan berbalik merugikan kami secara drastis dan segalanya berantakan dengan cepat. Ada banyak emosi yang dirasakan saat ini," kata Carrick.
Kekalahan dari Chelsea membuat Manchester United harus segera melakukan evaluasi untuk menghentikan rentetan hasil buruk yang terus berlanjut. Jika tidak mampu segera bangkit, Setan Merah berisiko semakin terjerumus dalam persaingan papan bawah Liga Inggris sekaligus mendekati catatan kelam tanpa kemenangan yang pernah terjadi pada 1984.
(igp/rda)