- REUTERS/Daniele Mascolo
Legenda AC Milan Bersuara, Akui Kualitas Rossoneri Belum Layak Jadi Penantang Scudetto dan Masih Jauh dari Era Generasi Emas
Jakarta, tvOnenews.com - AC Milan kembali meraih kemenangan di Liga Italia, namun hasil tersebut belum sepenuhnya menghapus keraguan soal status mereka sebagai penantang serius Scudetto musim ini. Penilaian kritis justru datang dari legenda klub sendiri, Alessandro “Billy” Costacurta, yang menilai kualitas skuad Rossoneri masih belum berada di level tim juara.
Seperti diketahui, AC Milan akhirnya kembali ke jalur kemenangan setelah dua laga beruntun hanya mampu bermain imbang. Kemenangan terbaru diraih Rossoneri saat menghadapi Como FC dengan skor 3-1.
Meski jarak poin Milan dengan Inter di klasemen belum berubah dan tetap berada di angka tiga, Costacurta menilai situasi tersebut bisa menyesatkan. Menurutnya, papan klasemen tidak selalu mencerminkan kekuatan riil sebuah tim di atas lapangan.
“AC Milan saat ini bukan tim yang bersaing untuk Scudetto,” ujar Alessandro Costacurta dalam wawancara dengan Corriere dello Sport. Pernyataan itu menegaskan bahwa kemenangan saja belum cukup untuk mengangkat Milan ke level kandidat juara.
Ia menyoroti cara Milan meraih kemenangan yang dinilainya masih jauh dari kata meyakinkan. Bagi Costacurta, tim juara biasanya mampu menang dengan berbagai cara, namun tetap menunjukkan kontrol permainan dan karakter yang konsisten.
Costacurta berbicara dengan latar pengalaman panjang bersama Milan, klub yang ia bela dalam 663 pertandingan resmi. Ia mengakui angka tersebut terasa istimewa, mengingat dirinya bermain di era yang dipenuhi para legenda.
“Saya berada di belakang ikon seperti Maldini dan Baresi, dua pemain yang masuk jajaran terbaik sepanjang sejarah sepak bola dunia,” tuturnya. Namun ia juga menekankan bahwa bertahan lama di Milan bukan perkara mudah.
Ia secara jujur mengakui keterbatasan pribadinya sebagai pemain. “Saya tidak kuat secara mental dan punya kaki besi, tetapi saya cepat dan bisa membaca situasi,” kata Costacurta mengenang gaya bermainnya.
Kehadirannya di Milan juga tak lepas dari momen yang tepat. Ia menyebut datang saat klub berada di puncak kejayaan, dengan struktur tim serta mentalitas juara yang sudah terbentuk kuat.
Peran Arrigo Sacchi menjadi salah satu kunci penting dalam perjalanan kariernya. Pelatih legendaris itu mengajarkan detail-detail mendasar yang mengubah cara Costacurta bertahan di lapangan.
“Sacchi membuat saya paham bagaimana menempatkan posisi tubuh dan membaca pergerakan lawan,” ungkapnya. Awalnya terasa kaku, namun pelajaran tersebut menjadi fondasi permainan yang ia bawa sepanjang karier.
Setelah era Sacchi, Fabio Capello melengkapi proses itu dengan penekanan pada mentalitas dan konsistensi. Kombinasi keduanya membuat Costacurta tetap mampu bersaing meski usianya terus bertambah.
Refleksi itulah yang kemudian ia bandingkan dengan kondisi Milan saat ini. Menurutnya, Rossoneri belum sepenuhnya memiliki fondasi kolektif sekuat generasi emas yang pernah ia rasakan.
Costacurta menilai Milan masih terlalu mengandalkan kualitas individu tanpa struktur permainan yang benar-benar matang. Tanpa karakter kuat dan konsistensi, peluang meraih gelar juara akan sulit diwujudkan.
Meski begitu, ia tidak sepenuhnya menutup peluang kejutan di Serie A musim ini. Namun bagi Costacurta, Milan harus menunjukkan identitas yang lebih jelas jika ingin benar-benar disebut sebagai penantang Scudetto.
(sub)