- REUTERS/Alessandro Garofalo
Buktikan Diri Pantas di Level Eropa, Francesco Pio Esposito Jadi Titik Terang dalam Kekalahan Inter Milan
Jakarta, tvOnenews.com - Di tengah malam dingin Norwegia yang terasa menggigit, Inter Milan nyaris pulang tanpa harapan. Namun satu nama muda memastikan api itu belum sepenuhnya padam, Francesco Pio Esposito.
Kekalahan 1-3 dari Bodo/Glimt memang menyisakan banyak pekerjaan rumah. Meski begitu, gol Pio Esposito di babak pertama menjadi penanda bahwa Nerazzurri belum menyerah.
Striker berusia 20 tahun itu kembali mencatatkan namanya di panggung Liga Champions. Gol tersebut menjadi yang kedua baginya di kompetisi elite Eropa musim ini.
Keputusan Cristian Chivu menurunkan Pio Esposito sejak menit awal sempat mengundang tanda tanya. Marcus Thuram yang biasa menjadi andalan justru memulai laga dari bangku cadangan.
Namun keberanian itu sempat terbayar. Pio Esposito tampil percaya diri dan menunjukkan ketenangan saat memanfaatkan peluang di depan gawang.
Ia berduet dengan Lautaro Martinez untuk memimpin lini depan Inter. Kombinasi keduanya beberapa kali mampu merepotkan barisan pertahanan tuan rumah.
Gol yang lahir di babak pertama memberi suntikan energi bagi tim tamu. Dalam situasi sulit, Inter setidaknya memiliki pegangan untuk menghadapi leg berikutnya.
Ini menjadi gol pertamanya di Liga Champions sejak matchday ketiga. Sebelumnya, ia juga mencetak gol saat Inter membungkam Royale Union Saint-Gilloise dengan skor telak 4-0 pada Oktober lalu.
Setelah momen tersebut, namanya sempat tenggelam dalam empat laga Eropa tanpa kontribusi gol. Malam di Aspmyra Stadion menjadi panggung kebangkitannya.
Tak hanya mencetak gol, Pio Esposito juga hampir mencatatkan assist. Di awal babak kedua, ia mengirimkan bola matang kepada Lautaro yang berdiri bebas di kotak penalti.
Sayangnya, peluang itu tak berbuah gol karena tembakan sang kapten membentur tiang gawang. Andai bola itu masuk, cerita pertandingan mungkin akan berbeda.
Di tengah tekanan dan permainan agresif Bodo/Glimt, Pio Esposito tetap berusaha menjadi titik terang. Pergerakannya memberi dimensi berbeda dalam serangan Inter yang kerap buntu.
Bagi pemain muda sepertinya, laga ini bukan sekadar soal hasil akhir. Ini tentang pembuktian bahwa ia pantas dipercaya di pertandingan sebesar ini.
Inter memang pulang dengan kekalahan, tetapi harapan belum sepenuhnya sirna. Selama masih ada leg kedua, gol Pio Esposito menjadi pengingat bahwa segalanya masih mungkin terjadi.
(sub)