- REUTERS/Alberto Lingria
Jose Mourinho Akui Tertekan usai Kasus Rasisme Vinicius
Jakarta, tvOnenews.com - Manajer Benfica, Jose Mourinho, akhirnya kembali angkat bicara setelah polemik dugaan pelecehan rasial terhadap bintang Real Madrid, Vinicius Junior, terus memanas. Pelatih asal Portugal tersebut mengakui situasi ini menjadi tekanan besar bagi dirinya dan tim, terutama menjelang laga penting berikutnya.
Kasus ini mencuat usai pertandingan Liga Champions antara Benfica dan Real Madrid. Vinicius Junior menuding pemain muda Benfica, Gianluca Prestianni, melontarkan hinaan rasial, bahkan Kylian Mbappe juga mengaku mendengar ucapan tersebut, sementara Prestianni membantah keras tuduhan itu.
UEFA pun bergerak cepat dengan membuka penyelidikan resmi terhadap insiden tersebut. Situasi semakin panas setelah Mourinho dikritik karena komentarnya yang dianggap tidak membela Vinicius dan justru menilai selebrasi pemain Brasil itu memancing emosi penonton.
Komentar tersebut membuat Vinicius dikabarkan marah besar. Bahkan legenda Prancis Lilian Thuram menilai pernyataan Mourinho mengandung nuansa superioritas kulit putih.
Pada Jumat waktu setempat, Mourinho kembali dimintai tanggapan soal polemik yang terus bergulir. Ia mengakui fokus timnya sempat terganggu, namun menegaskan Benfica tetap harus menjaga konsentrasi untuk pertandingan selanjutnya.
“Pertandingan ini benar-benar menuntut dalam setiap aspek. Hingga menit ke-50, pertandingan berlangsung dengan intensitas maksimal, baik secara fisik maupun taktik, membutuhkan konsentrasi yang diperlukan untuk bermain di level tersebut. Namun saya juga harus mengakui bahwa dari menit ke-50 hingga sekarang, tidak mudah untuk mengelola emosi atas semua yang telah terjadi dan terus terjadi. Tetapi besok (Sabtu melawan AVS) ada pertandingan penting untuk ambisi dan impian kami. Kemenangan adalah hal mendasar. Kita perlu berkonsentrasi dan berada dalam performa terbaik,” kata Mourinho kepada Diario AS.
Sebelumnya, Mourinho menegaskan Benfica bukan klub rasis. Ia bahkan menyebut legenda klub, Eusebio, sebagai bukti sejarah panjang Benfica yang menjunjung tinggi keberagaman.
“Dia mengatakan bahwa Benfica tidak mungkin rasis karena pemain terhebat mereka sepanjang masa adalah Eusebio. Apakah dia tahu apa yang harus dilalui para pemain kulit hitam di tahun 1960-an? Apakah dia ada di sana bepergian bersama Eusebio ke setiap pertandingan tandang untuk melihat apa yang dideritanya? Menggunakan namanya hari ini untuk membantah Vini…”
Komentar Mourinho tersebut memicu perdebatan luas. Banyak pihak menilai penggunaan nama Eusebio justru tidak relevan dengan konteks dugaan rasisme yang terjadi saat ini.
Meski demikian, ada juga pihak yang mencoba melihat polemik ini secara lebih bijak. Mereka menilai Mourinho tidak memiliki niat buruk, namun hanya salah dalam memilih kata.
“Jujur saja, saya tidak melihat tempat saya dalam banyak hal yang terjadi saat ini, jadi saya tidak ingin menjadi bagian dari satu kelompok atau kelompok lainnya. Saya telah bertemu 100 orang yang pernah bekerja dengan Jose Mourinho. Saya belum pernah mendengar siapa pun mengatakan hal buruk tentang dia. Semua pemainnya menyukainya. Saya mengerti tipe orang seperti apa dia, saya mengerti bahwa dia berjuang untuk klubnya. Saya tahu bahwa, jauh di lubuk hatinya, dia adalah orang yang baik. Saya tidak perlu menghakiminya karena itu.”
Namun, pernyataan itu juga menegaskan bahwa kesalahan tetap harus diakui. Harapan pun muncul agar insiden serupa tidak kembali terjadi di masa depan.
“Saya tahu apa yang saya dengar. Saya mengerti apa yang dia lakukan, tetapi dia telah membuat kesalahan. Saya harap hal itu tidak terjadi lagi di masa depan dan kita bisa melangkah maju bersama.” (fan)