- Reuters
Kandas di Liga Champions, Begini Alasan Bodo/Glimt Perkasa di Kandang Inter Milan
Jakarta, tvOnenews.com - Kampanye Liga Champions Inter Milan resmi berakhir dengan cara yang menyakitkan. Bermain di kandang sendiri, Nerazzurri justru takluk 1-2 dari Bodo/Glimt pada leg kedua babak play-off, memastikan agregat 5-2 untuk wakil Norwegia tersebut.
Hasil ini terasa ironis. Inter yang musim lalu melaju hingga final, kini harus tersingkir lebih awal oleh tim yang di atas kertas memiliki kualitas di bawah mereka.
Misi Sulit Sejak Leg Pertama
Inter sudah berada dalam tekanan besar setelah kalah 1-3 di Norwegia pekan lalu. Kekalahan itu membuat pasukan Cristian Chivu wajib menang dengan selisih tiga gol untuk lolos ke babak 16 besar.
Namun yang terjadi justru sebaliknya. Jens Petter Hauge dan Hakon Evjen membawa Bodo unggul 2-0 di babak kedua. Gol hiburan Alessandro Bastoni pada menit ke-70 tak cukup menyelamatkan wajah Inter di hadapan publik San Siro.
Agregat 5-2 menjadi bukti betapa Nerazzurri benar-benar kalah kelas dalam duel dua leg tersebut.
Rotasi yang Dipertanyakan
Kegagalan ini tak lepas dari hasil leg pertama di Aspmyra. Banyak yang menyinggung faktor lapangan sintetis dan suhu ekstrem di bawah nol derajat. Namun keputusan Chivu merotasi pemain juga jadi sorotan.
Beberapa nama seperti Marcus Thuram dan Federico Dimarco diistirahatkan demi menjaga kebugaran untuk laga Serie A kontra Lecce. Padahal Inter saat itu sudah unggul tujuh poin di puncak klasemen domestik, yang kini bahkan melebar menjadi 10 poin.
Keputusan tersebut kini dinilai sebagai perjudian yang berujung fatal.
Krisis Pemain Kunci
Inter juga tak tampil dengan kekuatan penuh. Kapten sekaligus top skor Lautaro Martinez cedera sejak leg pertama. Hakan Calhanoglu absen di dua laga, sementara Denzel Dumfries hanya bermain 10 menit di leg kedua.
Performa sejumlah bintang pun disorot, terutama Nicolo Barella. Media Italia menyebut kontribusinya terus menurun, dan ia dinilai gagal memberi dampak signifikan dalam duel kontra Bodo/Glimt.
Dominasi Tanpa Ketajaman
Secara statistik, Inter sebenarnya mendominasi leg kedua. Selama 60 menit pertama, mereka mencatatkan 23 tembakan dan 10 sepak pojok, sementara Bodo tak mendapatkan satu pun tendangan sudut.
Sepanjang 90 menit, Inter melepaskan 33 tembakan. Namun hanya enam yang tepat sasaran.
Sebaliknya, Bodo/Glimt tampil efektif. Dari tujuh percobaan, lima mengarah tepat ke gawang. Efisiensi inilah yang membedakan kedua tim.
Masalah utama Inter terlihat jelas: mereka kesulitan membongkar pertahanan rapat dengan 11 pemain bertahan di separuh lapangan sendiri. Umpan lambat, pergerakan kurang tajam, dan minim kreativitas di sepertiga akhir menjadi hambatan besar.
Tempo Lambat Jadi Penyakit Lama
Kritik juga datang dari legenda Italia, Fabio Capello. Ia menilai tim-tim Italia, termasuk Inter, bermain dengan tempo yang terlalu lambat.
Menurut Capello, ketika menghadapi tim yang agresif, menekan tinggi, dan bermain cepat, klub-klub Italia sering kewalahan karena tidak terbiasa dengan intensitas tersebut.
Bodo/Glimt membuktikan hal itu. Mereka tampil kompak dalam bertahan, tetapi sangat cepat saat transisi. Nama-nama seperti Patrick Berg, Hauge, dan Ole Didrik Blomberg beberapa kali merepotkan lini belakang Inter dengan kecepatan mereka.
Alarm untuk Sepak Bola Italia
Kekalahan ini bukan hanya tamparan bagi Inter, tetapi juga menjadi refleksi bagi sepak bola Italia secara umum.
Ketika tempo lambat menjadi kebiasaan di kompetisi domestik, tim-tim Italia akan terus kesulitan menghadapi lawan dengan pressing tinggi dan intensitas cepat di level Eropa.
Inter boleh jadi masih kokoh di puncak Serie A. Namun di Liga Champions, mereka baru saja menerima pelajaran pahit: dominasi tanpa efektivitas dan tempo lambat tak lagi cukup untuk bersaing di panggung elite Eropa.(lgn)