- instagram.com/marcovanginkel
Cerita Transfer Kilat Marco van Ginkel ke AC Milan: Datang saat Deadline, Dibuat Bingung oleh Taktik Filippo Inzaghi
Jakarta, tvOnenews.com - Mantan pemain AC Milan, Marco van Ginkel pernah digadang-gadang sebagai salah satu gelandang masa depan Belanda. Namun perjalanan kariernya justru lebih sering diwarnai pertanyaan “bagaimana jika” ketimbang deretan trofi dan sorotan panggung utama.
Lulusan akademi Vitesse itu sempat mencuri perhatian berkat performa matang di usia muda. Chelsea kemudian datang memboyongnya, memberi harapan bahwa kariernya akan melesat di level tertinggi Eropa.
Realitas berkata lain. Cedera demi cedera menghambat langkahnya, membuat potensinya tak pernah benar-benar mencapai puncak yang dibayangkan banyak orang.
Di tengah perjalanan tersebut, AC Milan pernah menjadi salah satu pelabuhan singgahnya. Rossoneri merekrut Van Ginkel dengan status pinjaman pada hari terakhir bursa transfer musim 2014-2015.
Kepindahan itu terjadi begitu cepat dan nyaris tanpa aba-aba. Van Ginkel mengaku mendapat telepon mendadak dari agennya yang memintanya segera terbang ke Milan dengan jet pribadi.
Semua terasa seperti adegan film yang berjalan tergesa-gesa. Dalam hitungan jam, ia sudah berada di Milanello untuk memulai babak baru dalam kariernya.
Di sanalah ia pertama kali bertemu Filippo Inzaghi sebagai pelatih. Momen itu ternyata menyimpan cerita unik yang hingga kini masih ia kenang.
Inzaghi mencoba menjelaskan taktik dan pergerakan di lapangan melalui presentasi slide. Masalahnya, sang pelatih berbicara dalam bahasa Italia, sementara Van Ginkel sama sekali tak memahaminya.
Situasi canggung pun tak terhindarkan. Dengan jujur ia mengatakan bahwa dirinya tidak mengerti, lalu Inzaghi berusaha menjelaskan ulang dalam bahasa Inggris yang juga tidak terlalu lancar.
Meski terasa kikuk, Van Ginkel tak pernah menyimpan kesan negatif. Ia justru melihat Inzaghi sebagai sosok yang tulus dan tengah belajar di musim pertamanya sebagai pelatih kepala.
Dalam ceritanya kepada Gazzetta dello Sport, ia menilai manajemen tim saat itu memang belum sepenuhnya stabil. Ada kalanya pemain tampil baik dalam beberapa laga, tetapi tetap harus duduk di bangku cadangan pada pertandingan berikutnya.
Di ruang ganti, suasana justru jauh lebih cair. Adil Rami disebutnya sebagai sumber tawa tim, sementara ia merasa dekat dengan Suso, Nigel de Jong, Giacomo Bonaventura, dan Alex.
Namun perjalanan di Milan tak sepenuhnya mulus. Dalam sebuah sesi latihan, ia sempat mengalami cedera pergelangan kaki akibat tekel keras Sulley Muntari.
Beruntung, cedera itu hanya berupa keseleo dan bukan patah tulang. Meski demikian, ia harus menepi selama dua bulan dan kehilangan momentum penting.
Van Ginkel tak pernah menyimpan dendam atas insiden tersebut. Ia menerima permintaan maaf Muntari dan memilih melihatnya sebagai bagian dari risiko profesi.
Kini, ketika menoleh ke belakang, Milan tetap menjadi bagian penting dalam kisah kariernya. Bukan hanya soal menit bermain, melainkan tentang pengalaman, pelajaran, dan kenangan yang membentuk dirinya sebagai pribadi dan pesepak bola.
(sub)