- REUTERS/Daniele Mascolo
Revolusi Finansial AC Milan di Era RedBird, Tinggalkan Kebijakan Gaji Ketat Era Elliott Demi Pertahankan Para Bintang
Jakarta, tvOnenews.com - Kebijakan gaji pemain di AC Milan kembali menjadi sorotan dalam beberapa musim terakhir. Meski tidak pernah memiliki batas gaji resmi, klub menunjukkan perubahan signifikan dalam cara mereka mengelola kontrak pemain.
Sejak diambil alih oleh RedBird Capital, pendekatan finansial Rossoneri mulai mengalami penyesuaian. Klub kini terlihat lebih fleksibel dibandingkan era sebelumnya saat masih berada di bawah kendali Elliott Management.
Pada masa kepemilikan Elliott, Milan dikenal sangat ketat dalam mengatur struktur gaji. Bahkan, kebijakan tersebut sempat menghambat beberapa target transfer yang dinilai terlalu mahal dari sisi beban gaji.
Istilah salary cap pun kerap muncul dalam berbagai laporan media. Meski tidak pernah benar-benar diterapkan secara formal, batas tidak tertulis tersebut menjadi acuan dalam pengambilan keputusan klub.
Menurut laporan Gazzetta dello Sport, angka maksimal yang biasa diberikan saat itu berada di kisaran 4 juta euro per musim. Nilai tersebut menjadi standar yang sulit dilampaui oleh sebagian besar pemain.
Namun, situasi mulai berubah setelah RedBird mengambil alih klub. AC Milan kini berani menaikkan batas tersebut hingga menyentuh angka sekitar 7 juta euro per musim.
Perubahan ini mencerminkan ambisi baru klub untuk tetap kompetitif di level tertinggi. Milan menyadari bahwa kualitas pemain kerap berbanding lurus dengan nilai kontrak yang ditawarkan.
Meski demikian, peningkatan gaji ini lebih terlihat pada kontrak individu pemain tertentu. Secara keseluruhan, struktur pengeluaran Milan masih relatif lebih rendah dibandingkan klub-klub besar lain di Eropa.
Beberapa pemain kunci menjadi contoh nyata dari kebijakan baru ini. Rafael Leao dan Mike Maignan disebut menerima total pendapatan lebih dari 7 juta euro per musim jika termasuk bonus.
Sementara itu, Christopher Nkunku juga masuk dalam kategori pemain dengan gaji tinggi di skuad saat ini. Ia menerima sekitar 5 juta euro per musim, meski beban kotor klub jauh lebih besar.
Hal tersebut disebabkan oleh tidak adanya keuntungan pajak dari kebijakan Growth Decree. Akibatnya, total biaya yang harus dikeluarkan klub untuk satu pemain bisa melonjak signifikan.
Di tengah perubahan ini, Milan tetap berusaha menjaga keseimbangan finansial. Klub tidak ingin mengulangi kesalahan masa lalu dengan pengeluaran yang tidak terkendali.
Pendekatan yang lebih hati-hati ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang. Milan ingin tumbuh secara stabil tanpa mengorbankan daya saing di lapangan.
Bursa transfer musim panas nanti akan menjadi ujian berikutnya. Di situlah akan terlihat sejauh mana fleksibilitas baru ini benar-benar diterapkan dalam membangun skuad.
Dengan kombinasi antara kehati-hatian dan keberanian, AC Milan mencoba menemukan formula ideal. Mereka ingin tetap relevan di level tertinggi tanpa kehilangan kendali atas kondisi keuangan klub.
(sub)