- Twitter - Como 1907
Mimpi Liga Champions Como 1907 Terancam Kandas, Ini 3 'Dosa' yang Hantui Klub Hartono Bersaudara Itu
tvOnenews.com – Como 1907 saat ini tengah menjadi buah bibir di kancah sepak bola Italia. Performa impresif di lapangan membuat tim milik Hartono bersaudara ini bermimpi besar menembus kompetisi elit Eropa, Liga Champions (UCL).
Namun, di balik perayaan gol dan semangat juang Cesc Fabregas dan anak asuhnya, ada "bom waktu" administratif yang tengah berdetak. Mimpi indah ini bisa saja berubah menjadi mimpi buruk jika manajemen tidak segera berbenah.
Bukan karena kalah bertanding, melainkan karena potensi penolakan UEFA akibat tiga "dosa" besar yang mengancam nasib mereka di atas kertas. Apa saja masalahnya? Simak selengkapnya.
1. Masalah Stadion: Estetika vs Standar UEFA
Stadion Giuseppe Sinigaglia memang ikonik karena lokasinya yang langsung menghadap Danau Como. Namun, bagi UEFA, keindahan visual bukan prioritas utama. Ada standar teknis yang sangat ketat.
Saat ini, stadion tersebut memiliki kendala serius mulai dari struktur tribun bongkar pasang yang tidak sesuai regulasi, hingga lebar lapangan yang hanya 66 meter—kurang 2 meter dari standar 68 meter yang ditetapkan UEFA.
Jika renovasi tidak rampung sebelum September, Como 1907 terancam menjadi "tunawisma" dan harus meminjam markas klub lain, sebuah skenario yang tentu menyakitkan bagi para suporter.
- Como 1907 Official
2. Lubang Defisit Finansial
Banyak yang mengira dukungan dana dari Grup Djarum adalah jaminan segalanya. Namun, di Eropa, memiliki pemilik kaya bisa menjadi bumerang jika melanggar aturan Financial Fair Play (FFP).
Data menunjukkan kondisi yang cukup mengkhawatirkan. Pada periode Februari 2026, Como mencatatkan pemasukan sekitar 16 juta euro, sementara pengeluaran membengkak hingga 126 juta euro.
Defisit sebesar 110 juta euro atau lebih dari Rp1,8 triliun ini berada di bawah pengawasan ketat UEFA. Jika gagal menyeimbangkan neraca keuangan lewat settlement agreement, nasib Como bisa serupa dengan AC Milan pada 2019 dicoret dari kompetisi Eropa meski secara prestasi mereka berhak lolos.
- REUTERS/Daniele Mascolo
3. Krisis Pemain Homegrown