- ANTARA/AFP/Gabriel Bouys/pri.
Ketika Gareth Bale Bicara, Tabir Kegagalan Xabi Alonso di Real Madrid Akhirnya Terkuak
Jakarta, tvOnenews.com - Gareth Bale akhirnya angkat bicara, gambaran tentang apa yang sebenarnya terjadi di balik pintu ruang ganti Real Madrid pada era kepelatihan Xabi Alonso perlahan menjadi lebih terang.
Penunjukan Xabi Alonso sebagai pelatih Real Madrid pada musim panas lalu sempat disambut optimisme besar.
Ia datang menggantikan Carlo Ancelotti dengan reputasi mentereng setelah sukses membawa Bayer Leverkusen meraih gelar dan tampil konsisten di level tertinggi.
Alonso diharapkan menghadirkan pembaruan, baik dari sisi taktik maupun mentalitas.
Namun, ekspektasi itu tidak pernah sepenuhnya terwujud. Dalam waktu kurang dari setengah musim, proyek Alonso di Santiago Bernabeu justru berakhir lebih cepat dari yang diperkirakan.
Dewan klub memutuskan untuk mengakhiri kerja sama setelah serangkaian hasil yang dinilai tidak mencerminkan standar Real Madrid.
Di bawah asuhan Alonso, Los Blancos kesulitan menemukan stabilitas. Mereka tertinggal cukup jauh dari Barcelona dalam persaingan gelar La Liga.
Kekalahan dari rival abadinya itu di ajang Piala Super Spanyol menjadi momen krusial yang semakin menggerus kepercayaan manajemen terhadap sang pelatih.
Masalah Real Madrid tidak hanya berhenti pada performa di lapangan. Alonso juga disebut mengalami kendala dalam mengelola ruang ganti yang sarat bintang.
Sejumlah laporan menyebutkan adanya hubungan yang kurang harmonis antara Alonso dengan beberapa pemain kunci, termasuk Vinicius Junior dan Rodrygo. Ketegangan internal tersebut berdampak pada kohesi tim serta suasana kerja sehari-hari.
Pandangan kritis mengenai kegagalan Alonso kemudian disampaikan Gareth Bale.
Mantan pemain Real Madrid itu menilai bahwa tantangan melatih klub sebesar Real Madrid tidak semata soal kecakapan taktik.
“Dia adalah pelatih hebat. Dia memenangkan gelar di Bayer Leverkusen dan melatih tim dengan sangat baik. Tetapi ketika Anda datang ke Real Madrid, Anda tidak hanya perlu menjadi pelatih, Anda perlu menjadi manajer. Anda harus mengelola ego di ruang ganti,” ujar Bale dalam wawancara dengan TNT Sport.
Menurut Bale, keberadaan para pemain bintang di Real Madrid menuntut pendekatan yang berbeda. Seorang pelatih harus mampu memahami dan mengelola karakter para superstar yang dapat menentukan hasil pertandingan dalam sekejap.
“Anda harus memanjakan ego. Anda tidak perlu melakukan terlalu banyak hal taktis. Di ruang ganti ada superstar yang bisa mengubah jalannya pertandingan kapan saja. Jadi memang benar dia ahli taktik yang baik, tetapi di Real Madrid, itu tidak cukup,” kata Bale.
Usai meninggalkan kursi kepelatihan, Xabi Alonso pun mengakui bahwa masa baktinya tidak berjalan sesuai harapan.
Dalam pernyataan terbuka, ia menyampaikan rasa hormat dan terima kasihnya kepada klub serta para pendukung.
“Perjalanan profesional ini telah berakhir dan tidak berjalan seperti yang kami harapkan. Melatih Real Madrid adalah sebuah kehormatan dan tanggung jawab. Saya berterima kasih kepada klub, para pemain, dan terutama para penggemar atas kepercayaan dan dukungan mereka. Saya pergi dengan rasa hormat dan bangga karena telah melakukan yang terbaik,” tulis Alonso.
Real Madrid kemudian bergerak cepat menunjuk Alvaro Arbeloa sebagai pengganti. Meski sempat mengawali kiprah dengan kekalahan dari Albacete di Copa del Rey, Arbeloa mulai menunjukkan arah baru lewat hasil positif di La Liga dan penampilan menjanjikan di Liga Champions.
Sebuah babak baru pun dibuka, sementara era singkat Xabi Alonso menjadi catatan penting tentang betapa kompleksnya tantangan memimpin klub sebesar Real Madrid.(lgn)