- Tim TvOne/ Kurnia
Ramadhan Sananta, Gigih Bermain Sepak Bola sejak Kecil sampai Lupa untuk Makan
Tanjungpinang, tvOnenews.com - Muhammad Ramadhan Sananta, menjadi salah satu pahlawan Tim Nasional (Timnas) Indonesia U-22 di SEA Games 2023 Kamboja. Dia berhasil membawa pulang emas SEA Games 2023 bersama Timnas, usai menumbangkan Thailand, pada Selasa (16/5/2023).
Nanta, sapaan akrab Ramadhan Sananta itu, membuat decak kagum masyarakat Indonesia. Sebab, remaja kelahiran Kabupaten Lingga itu berhasil membobol gawang Thailand sebanyak dua kali dalam partai final SEA Games 2023 di Kamboja.
Berikut profil Muhammad Ramadhan Sananta, mulai dari biodata singkat, hingga perjuangannya dalam meraih prestasi dalam ajang sepak bola.
Nama Lengkap: Muhammad Ramadhan Sananta
Tanggal Lahir: 27 November 2002 (saat ini berusia 20 tahun)
Tempat Lahir: Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau
Tinggi: 182 cm
Orang Tua: Syahriman dan Nensih Yanuarti
Klub Saat Ini: PSM Makassar
Posisi: Striker
Akun Instagram: @m.ramadhansn
Perjalanan Karier Sepak Bola Ramadhan Sananta
Nanta, sapaan akrab M. Ramadhan Sananta mengawali karirnya dengan bermain sepak bola di kampung halamannya. Dia yang saat itu berusia 5 tahun, diajari bermain bola oleh pamannya sendiri, yang saat itu melatih tim sepak bola di kampungnya, Daik, Lingga.
Syahriman, ayah Sananta mengakui lapangan bola memang berada tidak jauh dari kediamannya. Sehingga, Sananta bermain setiap hari di lapangan tersebut. Ditambah lagi, Paman Sananta merupakan seorang pelatih.
"Namanya bola tarkam, tingkat kampung aja. Pamannya juga pelatih saat itu. Jadi lewat jalur ini, Sananta dari umur 5 tahun gigih bermain bola, bahkan sampai lupa untuk makan," ujar Syahriman, saat wawancara di program Kabar Petang Tv One, Rabu (17/5/2023).
Saat duduk di bangku SMP, Sananta mulai dipandang oleh pemerintah daerah untuk mengikuti Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) Kepri. Melihat potensi permainannya profesional, Pemerintah Kepri mulai merekrut dan memfasilitasi pendidikan Sananta, dari SMP hingga belajar di Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP).
"Sejak dini sudah diajari oleh pamannya, harus lebih ekstra. Datang cepat, pulang lambat. Berangkat dengan bahasa itu, jadilah sampai sekarang. Tentu ini menjadi kebanggaan bagi orang tua dan masyarakat Indonesia," kata Syahriman.